Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Oktober 2018

Ngaji sik Bung!

Kasus pembakaran bendera Hisbut Tahrir saat peringatan Hari Santri cukup menarik jika mau ditelaah lebih jauh. Polemik muncul, apakah itu kalimat Tauhid, atau "cuma" sebuah bendera organisasi.

Dari perdebatan mengenai Ar-Rayah dan Al-Liwa, perang Sanad Hadits, dan segala perdebatan copas-copasan artikel dari para jamaah Al-Googliyah wal Fesbukiyah dengan para santri yang ga bisa nunjukin link argumen, karena emang pengetahuannya berdasar pada pengalaman dan buku cetak, bukan pdf (terkadang lalu diteruskan dengan ad hominem cebong-kampret,entah nyambungnya di mana...)

Lalu, apakah yang menarik? Well, buat saya pribadi ini cukup menarik jika mau ditelaah, mungkin ini tidak cukup mendalam, tapi ya ini cuma berdasarkan pengetahuanku tentang Hak Kekayaan Intelektual, dimana Logo dan Merek juga diatur.

Suatu logo memiliki daya pembeda dan dipergunakan dapat berupa:
  •   gambar, seperti lukisan burung garuda pada logo Garuda Indonesia atau gambar kelinci pada logo Dua Kelinci;
  •  kata, seperti Google, Toyota, atau Mandiri;
  •  nama, seperti Tommy Hilfiger atau Salvatore Ferragamo;
  • frasa, seperti Sinar Jaya atau Air Mancur;
  •  kalimat, seperti Building for a Better Future atau Terus Terang Philip Terang Terus;
  •   huruf, seperti huruf "F" pada logo Facebook atau huruf "K" pada logo Circle-K;
  •  huruf-huruf, seperti IBM atau DKNY;
  •  angka, seperti angka "7" pada logo Seven Eleven atau angka "3" pada logo provider GSM Three;
  • angka-angka, seperti merek rokok 555 atau merek wewangian 4711;
  •  susunan warna, seperti pada logo Pepsi atau Pertamina;
  •  bentuk 3 (tiga) dimensi;
  •   suara;
  •  hologram;
  •  kombinasi dari unsur-unsur tersebut.

Suatu Merek tidak dapat didaftar apabila:

  • Pendaftarannya dilandasi dengan itikad buruk. Katakanlah seorang pengusaha ayam goreng mendaftarkan merek CIPUTAT FRIED CHICKEN di kelas dan jenis barang-barang hasil olahan daging ayam. Jika ada pengusaha lain yang mencoba mendaftarkan merek yang sama untuk kelas dan jenis jasa restoran dengan niatan untuk menghalangi pengusaha pertama, maka pendaftaran ke dua bisa dianggap dengan itikad tidak baik dan dengan demikian semestinya tidak dapat didaftar;
  •  Bertentangan dengan perundang-undangan, moralitas agama, kesusilaan atau ketertiban umum. Salah satu contohnya adalah merek Buddha Bar yang kemudian dibatalkan karena dianggap bertentangan dengan agama;
  • Tidak memiliki daya pembeda, misalnya tanda tanya "?" atau huruf balok tunggal "K" dalam perwujudan yang biasa/lazim. Namun tanda tanya "?" yang diberi ornamen seperti pada logo Guess, atau huruf tunggal "K" yang ditampilkan dalam tata artistik tertentu seperti pada logo Circle-K, bisa didaftar;
  •  Telah menjadi milik umum, seperti tanda tengkorak bajak laut atau palang seperti pada palang merah. Namun jika diberi ornamen tambahan seperti tengkorak pada logo Skullcandy atau palang pada logo Swiss Army, bisa didaftar;
  •  Menerangkan barang/jasanya itu sendiri. Apple tidak dapat didaftarkan sebagai merek untuk buah-buahan, tapi bisa didaftar untuk merek produk elektronik.

Sekarang, kita lihat logo Hisbut Tahrir dan Hizbut Tahrir Indonesia

ini logo Hisbut Tahrir (internasional), dengan berbagai variannya, 

tapi tetap, unsur utamanya adalah ini:
Ar-Rayah versi Hisbut Tahrir



Kemudian diadaptasi di Indonesia oleh Hisbut Tahrir Indonesia menjadi seperti ini:

Dan, underbow-underbow HTI menggunakan logo-logo turunannya. Beberapa diantaranya,


Sekarang, kalau lihat foto-foto ini

Ar-Rayah dan Al-Liwa diabuse dalam segala event Hizbut Tahrir, selalu dibawa dan dijadikan identitas oleh kelompok HTI (Hisbut Tahrir Indonesia). Secara lambang HT/HTI memang merujuk pada Ar-Rayah dan Al-Liwa tersebut.

Nah, kalau melihat aturan tentang merek dan logo, bagaimana? Postingan blog ini kan memang berfokus pada permasalahan logonya, maka ayo kita telaah bersama.
Ayo kita lihat kembali Ar-Rayah


Ar-Royah versi HT/HTI adalah semacam ini. Konon ini panji hitam Rasulullah. Debatable lagi, karena pada era Rasulullah penulisan huruf hijaiyah tidak seperti itu. Ada riwayat juga kalo Ar-Rayah dan Al-Liwah itu ternyata polos, tanpa tulisan apapun (teknologi tekstil pada era itu tidak memungkinkan untuk menambahkan tulisan pada kain).
Jikalau memang ini Panji milik Rasulullah, maka tidak ada kelompok yang lebih berhak memakainya sebagai identitas pribadi golongannya, seperti pada aturan :
“Telah menjadi milik umum, seperti tanda tengkorak bajak laut atau palang seperti pada palang merah. Namun jika diberi ornamen tambahan seperti tengkorak pada logo Skullcandy atau palang pada logo Swiss Army, bisa didaftar”

Sama halnya, tidak bisa mengklaim bendera Merah Putih adalah milik kelompok sendiri, karena Bendera Merah Putih adalah bendera milik keseluruhan Bangsa Indonesia.

Jadi, dalam hal ini, HT/HTI tidak punya Ground Valid atas penggunaan Ar-Rayah sebagai lambang organisasinya, tapi tetap saja ada klaim HT/HTI berhak memakai logo ini. Klaim inilah yang kemudian membuat kasus ini semakin melebar. Nggeladrah kemana-mana, sampai menyamakan semua lafadz [لآ اِلَهَ اِلّا اللّهُ مُحَمَّدٌ رَسُوُل اللّهُ ] yang ada di keranda mayat termasuk logo HTI.

Ini adalah sesat pikiran yang berbahaya, sebab dalam logo, ada yang namanya "daya pembeda", dimana ada unsur lain yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi lambang tersebut. Coba kita lihat bendera Saudi Arabiya.

Dalam bendera Saudi Arabiya, ada tambahan pedang di bawah, dan warna background benderanya hijau. Ketika kalimat Tauhid dituliskan di kain hijau ditambah pedang, itu sudah memiliki yang namanya "daya pembeda" dengan kain di keranda tersebut. Kain itu sudah menjadi bendera Saudi Arabiya, bukan Bendera Tauhid.... hehehehe....

Apakah Ar-Rayah memiliki "daya pembeda"? Sayangnya pihak HT/HTI sudah memfabrikasinya. Bagaimana? dengan menyatakan Ar-Rayah (versi HT/HTI) adalah "bendera hitam dengan tulisan kalimat Tauhid di atasnya".

Jadi, saya menyimpulkan bahwa HT/HTI mencoba memfabrikasi klaim hak atas Ar-Rayah dan Al-Liwa, dan membuat Ar-Rayah/ Al Liwa sebagai lambang organisasinya.

Apakah anda marah atas peritiwa pembakaran Bendera HT/HTI? Kalau iya, maka ada 2 kemungkinan.

Anda marah karena bendera Organisasi anda dibakar
Bagus! anda punya loyalitas yang tinggi, sayangnya organisasi anda sudah dilarang di Indonesia, terimalah kenyataan.... kembalilah ke pangkuan Ibu Pertiwi, atau lakukan konsekuensi-konsekuensi yang harus diterima

Anda marah karena Kalimat Tauhid dibakar
Bagus, semangat anda dalam beragama saya acungi jempol. Tapi harap arahkan kemarahan anda kepada HT/HTI yang sudah menggunakan Ar-Rayah dan Al-Liwa sebagai lambang organisasinya. jikalau perlu, bendera Saudi Arabiya juga didemo lah... nanti kalau ada demo perang Yaman dan bakar bendera Saudi Arabiya, bisa jadi bakalan dibakar pula itu bendera.

Itulah hasil ngaji saya Bung, sayangnya kajian saya mungkin berbeda dengan apa yang anda kaji di pengajian anda.

Senin, 20 Juni 2016

Belajar dan mengajar beladiri, nowdays

Tergugah nulis blog lagi, gara2 beberapa teman share tulisan di blog ini, saya punya pandangan yang agak berbeda.
Kebetulan saya belajar beladiri yang sama dengan penulis di blog itu (dan juga kota yang sama), cuma saya mulai belajar saat anak2 (tahun 1991 saya mulai belajar, sampai 1997, setelah itu vakum sampai aktif lagi 2012 kemarin).
Secara garis besar, jaman dulu kami serupa dalam belajar beladirinya. Panggilan "sayang" berupa sensus kebun binatang, latihan monoton yang keras, sampai indoktrinasi kalo beladiri kita itu über alles, semua mirip (kecuali "sentuhan fisik" soalnya saya masih junior, hehehehe...)
1997, saat kelas 2 smp, saya pindah ke kota pelajar. Disini saya sempat mengalami gegar budaya, dimana latihan disini 3x lebih keras (indeed, apakah karena apes masuk dojo untuk tc, atau emang sehari2 seperti itu saya ga tau), sehingga saya masuk ke tahap untuk muak berlatih lagi.
Walaupun sampai pada tahap muak, tapi dalam hati saya masih cinta dengan beladiri saya ini (true). Saya masih buka-buka diktat lama, nonton latihan (nonton doang, mesti ga jarang Mas Adri nyuruh ikut dan ganti Dogi), dan ketika pertama kali kenal internet, dimana anak lain pada sibuk cari bokep atau animr, saya malah cari2 artikel tentang beladiri saya ini... Wakakakakaka lucu dah.
Di era 1997-2012, saya melihat beladiri saya dari luar. Segala referensi saya lahap, kontroversi2 saya baca. Hasilnya pemahaman saya menjadi berubah dari pemahaman teman2 saya sesama praktisi beladiri tersebut secara mainstream.
Selain itu, saya sesekali main ke beberapa dojo untuk sekedar melihat atau bahkan ikut latihan. Pasang surut anggota saya lihat. Dari yang latihan 40orang sampai tinggal 4 orang, lalu naik lagi sampai 20 orang/latihan (belum bisa mengalahkan era tahun <2000 tentang jumlah peserta latihan rata2).
Selain itu, saya juga melihat penurunan kualitas penguasaan, apalagi pemahaman teknik. Seorang sabuk biru gerakannya sangat kacau, mirip sabuk putih, dan banyak lagi (di era setelah 2012 saya jumpa masih banyak yang seperti itu, bahkan lebih parah).
Akhirnya, pada 2011 saya bertemu teman2 satu aliran dalam kunjungan nonton SEA Games di Jakarta (termasuk penulis blog yang saya link di atas itu), sayapun terpanggil untuk aktif lagi. Saya kembali masuk ke dalam dan melihat dari dalam.
Ternyata teknik mengajar, tidak banyak berubah dari masa saya aktif dulu pada masa 1997 ke belakang.
Sempai mengajarkan teknik seperti sempainya dulu mengajarinya. Tidak jarang, si sempai tersebut tidak bisa menjawab pertanyaan berkaitan dengan teknik tersebut yang diberikan oleh kohainya.
Selain itu, satu teknik bisa berbeda2 cara eksekusinya, tergantung dulu gimana sang sempai diajari sempainya dulu. Dan, terkadang banyak yang memaksakan bahwa "my way is the only way", selain itu salah.
Metode pelajaran ini mirip seperti fotokopi. Materi difotokopi, lalu fotokopian tersebut diajarkan ke bawah, fotokopian materi tersebut kembali difotokopi untuk diteruskan ke bawah, begitu seterusnya. Tidak jarang, materi yang disampaikan sekarang itu bisa sangat kabur/tidak jelas karena proses fotokopi berulang tersebut.
Terus gimana?
Perlu diakui, SDM Pelatih sepertinya saat ini kualitasnya tidak sebaik dulu. Kita bicara secara umum, bahkan guru pun tidak sebaik dulu kualitasnya dalam mengajar. Saya dulu kelas 2 sd sudah apal perkalian satu digit, perkalian susun, pembagian susun sederhana. Tapi ketika saya nemenin ponakan kelas 2 sd belajar, konsep dasar aritmetikanya saja belum nyantol.... Yak, separah itu....
Konsep dasar... Ya... Konsep dasar
Masa sekarang, ga perlu kita menghapalkan materi pelajaran. Semua sudah tersedia di Internet. Dulu kita dipaksa menghapalkan bahwa Tunki Ariwibowo adalah Mentri Muda Perindustrian, Joop Ave adalah Menparpostel, Murdiyono adalah Mensesneg, hapal Eka Prasetya Pancakarsa, Butir2 Pancasila, dan banyak lagi. Anak2 sekarang (bahkan orang tua) banyak yang tidak tahu siapa Lukman Hakim Syarifudin, Heroe Soelistyawan, dan nama2 pejabat pemerintahan lainnya.
Era sudah berbeda...
Dulu pengajaran dalam metode 5w1h, lebih mengutamakan Who, What, Where, When. Sementara sekarang Why dan How lebih menarik (karena memang  terkadang hal ini tidak tercover dalam materi konvensional). Seperti materi sejarah Perang kemerdekaan, Why dan How selalu dari sudut pandang RI, sementara sudut pandang Belanda diabaikan.
Bagaimana dengan beladiri? Ternyata sama saja!
Why dan how terkadang diabaikan... Tunggu, kenapa how malah diabaikan, sementara kita belajar teknik beladiri?? Nah, ini adalah konsep dasar tadi itu.
Kalau belajar cara fotokopi, konsep dasar ini sering miss, dulu diajarkan "begini" nah, kenapa sampai bisa "begini" ini tidak tersurat. Kenapa kaki melangkah ke depan? Kenapa pakai kuda2 ini, kenapa posisi tangan begini? Terkadang tidak bisa dijelaskan ini adalah "why".
How malah lebih parah lagi, gimana cara eksekusi teknik ini kalau lawan xxx, gimana cara eksekusi teknik ini kalau lawan yyy. Kalau cuma bisa satu kondisi, tentu ketika ketemu kondisi lain kita akan kebingungan.
Satu teknik dasar, kalau dikulik cukup dalam, bisa makan waktu yang lama. Nah sebagai pelatih, kita harus bisa menangkap konsep dasar tersebut, lalu mengembangkannya dalam koridor yang sudah ditentukan, lalu kita share kepada kohai/murid kita.
Perdalam materi, ikutlah latihan di tempat lain, hadiri gathering/gashuku/seminar beladiri. Kembangkanlah materi yang ada. Kita sebagai pelatih, tentu bisa menyerap materi lebih baik daripada orang awam buka youtube. Jangan sampai murid/kohai kita lebih menguasai materi hanya dengan bermodalkan video youtube #gengsidong hehehe...
Intinya adalah, jaman sudah berubah, kita harus bisa menyesuaikan diri dengan jaman kalau tidak mau dilindas olehnya

Kamis, 09 Februari 2012

Gassho Rei dan Osu








 Banyak kenshi merasa galau dengan kebiasaan mengucap kata osu ketika melakukan rei. Hal ini dikarenakan tulisan Alm. Sempai Affan Gaffar berikut ini

Salam Persaudaraan

Belum lama ini ada pertanyaan dari kenshi, tentang adanya himbauan supaya kenshi Indonesia untuk tidak menggunakan ucapan Oss lagi, tapi menggunakan Onegaisimasu (baca Onegaisimas). Sebenarnya apa makna dari dua kata itu? Apa perbedaannya? Haruskah kita tidak mengucapkan Oss lagi? Supaya tidak ada kesalahkaprahan, karena ketidakpahaman akan bahasa Jepang, di bawah ini akan dicoba dipaparkan sedikit penjelasan, sejauh pemahaman yang saya punya. Kalau ada yang tahu lebih dalam, silahkan dikoreksi.
Oss, sebenarnya dari huruf kanji Ossu, yang terdiri dari dua huruf kanji, yaitu Ossu 押 , yang berarti menekan dan sinobu 忍 yang juga berrati menekan. Huruf kanji dari sinobu 忍 berbentuk katana (pedang) di atas kokoro (hati). Jadi, Oss,bisa diartikan sebuah sikap atau kehendak untuk menekan diri sendiri, atau menaklukkan diri. Jadi, setiap kali mengucapkan oss, makna terpendam sebenarnya menyatakan kesediaan menaklukkan diri sendiri. Adapun makna harafiah dari Oss, bisa diterjemahkan sebagai ya, atau yes, atau yes sir, atau baik pak , baik bu, baik sempai, atau nggih kalau dalam bahasa jawa, atau secara luas juga bisa diartikan siap laksanakan kalau bahasa tentara. Umumnya, kata Oss ini digunakan oleh karateka, namun demikian beladiri lain pun seperti Judo, aikido, kendo, dan juga Kempo juga lazim menggunakannya.
Karena arti dari Oss itu seperti itu, sementara Kenshi Indonesia umumnya karena tidak paham benar artinya, selalu menggunakan Oss dalam kesempatan apapun, sehingga ada kalanya kurang tepat. Ketika dikunci, dan merasakan kesakitan kenshi di Indonesia akan bilang Osssss. Kehendak hati ingin mengatakan, teknikmu benar kawan, ini sakit bener aku. Namun, karena Oss itu artinya seperti di jelaskan di atas, maka ketika Sensei dari Jepang datang dan mempraktikkan teknik kepada Kenshi Indonesia, dan kenshi Indonesia teriak Ossss, dia bingung. Orang dikunci kok malah bilang "yaaaaa". Makanya, kalau teman-teman ada yang ingat, Sensei dari Honbu yang datang biasanya kepada kenshi yang dikunci kalau mau memberitahu kepada yang ngunci bahwa sakit disuruh bilang itai (artinya- sakit), jangan bilang Oss. Mungkin (ini dugaan saya), dulu awal mula para sempai/sensei senior dari Jepang ketika latihan kan yang ngunci tanya pada yang dikunci, udah bener belum kunciannya, sakit enggak. Kalau sakit, maka dia jawab Oss, artinya ya (karena ditanya, sakit enggak (Itai desu ka), dijawab Oss.- Ya).
Jadi, kalau dalam terminologi bahasa, kata Oss sah-sah saja digunakan, asal tepat pada tempatnya. Oleh karenanya orang Jepang atau yang ngerti bahasa Jepang akan mengerutkan kening kalau lihat embu kenshi Indonesia, karena dalam setiap kuncian akan teriak oossss, setiap kali ketemu dan gasho rei bilang Oss. Pagi-pagi ketemu di dojo waktu gashuku saling gasho rei, bilang Oss. Mestinya ya gasho rei sambil ucapkan salam, kalau di jepang bilang Ohayougosaimasu, kalau kita ya sambil gashi rei bilang Selamat Pagi. Kalau malam, ya ketemu sambil gasho rei bilang Selamat Malam.
Memang kadang, kalau di kampus di Jepang mudah ditemui mahasiswa yang junior akan mengucap salam lengkap, misalnya ohayougosaimasu kalau pagi, sementara yang senior dengan santai jawab Oss. Jawaban Oss atas ucapan salam itu kurang sopan, atau hanya boleh dijawab dari yang senior kepada yang junior, itupun hanya dilakukan kalau kepada orang dalam. Artinya kalau kepada tamu, atau orang yang bukan anggota dojo atau kelompoknya, maka jawabannya seperti itu tidak sopan. Jadi ketika si junior bilang selamat pagi, seniornya malas jawab selamat pagi juga, dia hanya jawab ya (oss), begitu tata kramanya yang hanya boleh dilakukan oleh senior dan itupun pada orang dalam kelompoknya sendiri, bukan orang yang baru kenal meskipun sesama kenshi kalau gak kenal ya akan pakai bahasa sopan. Pun demikian, akan lebih baik kalau senior pun menjawab lengkap, ohayougosaimasu juga, kalau itu pagi hari.
Nah, adapun di Jepang, kenshi Jepang sudah jarang menggunakan kata Osh. Bukan tidak ada sama sekali, beberapa masih menggunakannya. Kalau memulai latihan, atau mau berpasangan dan gasho rei, biasanya yang diucapkan adalah Onegaisimasu. Secara harafiah arti, onegaisimasu berarti please, atau mohon kesediaan anda untuk ...(kalau latihan ya melatih saya, atau berlatih bersama saya, kalau minta tolong ya menolong saya). Nah, ini bukan berarti kata Osh digantikan oleh kata onegasimasu. Dalam kontek, memulai latihan, kata Oss dan onegasimasu memiliki arti yang relatif sama. Tapi, kalau dari sudut sopan santun, maka onegasimasu lebih sopan (bahasa jepang mengenal tingkatan seperti bahasa Jawa dan Sunda). Saya kira lebih sopan itu yang menjadi alasan sekarang kenshi Jepang lebih memilih menggunakan kata onegasimasu, ketika gasho rei masuk dojo, atau ketika mau memulai latihan, atau berpesangan, atau memulai sesuatu yang melibatkan kenshi/orang lain. Nah, kalau kenshi Indonesia mau meninggalkan penggunaan Oss, dan mengganti dengan Onegaisimasu yang lebih sopan/halus, itu tidak ada salahnya, hanya harus diingat, jangan buat kesalahan yang sama dengan penggunaan Oss lagi. Jangan nanti, kalau dikunci dan kesakitan juga bilang onegaisimasu. Selesai berpasangan (dulu bilang oss lagi) sekarang jangan terus juga bilang onegaisimasu (karena berarti minta latihan lagi). selesai dihukum (kalau lakukan kesalahan) oleh sempainya jangan bilang onegaisimasu (karena berarti minta dihukum lagi). Kalau mau menggunakan terminologi baru onegaisimasu ketika memulai latihan, atau mengawali satu kegiatan yang melibatkan pasangan bicara kita, maka ketika selesai yang mesti diucapkan arigato gosaimasu (terima kasih), bukan lagi onegaisimasu. Begitu juga ketika selesai latihan dan keluar dojo ketika gasho rei ke dojo juga bilangnya arigato gosaimasu (bukan onegaisimasu). Kalau selesai latihan, atau selesai melaksanakan satu kegiatan bersama, bilangnya kepada sesama kenshi adalah otsukaresamadesita (kadang disingkat otsukaresamades) artinya kurang lebih terima kasih telah/ untuk kerja keras/susah payah/perjuangan anda (bersama-sama).
Jadi kata Oss boleh tidak? Menurut hemat saya, surat dari PB PERKEMI itu maksudnya bukan tidak boleh, tapi pakailah pada tempatnya yang pas sesuai artinya. Kalau ada kata yang lebih sopan seperti onegaisimasu, pakailah onegaisimasu, tapi juga tepat pada tempatnya. Masih ingat, beberapa waktu sebelumnya ada juga himbauan dari PB PERKEMI tentang penyebutan Sempai? Ya. Inti persoalan juga sama. Karena banyak kenshi Indonesia panggil simpai, bukan sempai. Padahal simpai artinya khawatir. sedangkan sempai artinya, kakak/abang atau senior. Juga banyak kenshi Indonesia bilang sinse, padahal yang benar dalam bahasa jepang Sensei ( Sen artinya yang lebih dulu Sei artinya lahir). Kenapa kenshi Indonesia bilang sinse? Karena kita terbiasanya dengan kata sinse untuk tabib pengobatan atau guru dalam bahasa China. Semoga bermanfaat. Kalau ada yang salah, silahkan dikoreksi.

Demi Tanah Air, Demi Persaudaraan, Demi Kemanusiaan
http://perkemidiy.mu...an_Onegaisimasu



Gara2 tulisan alm. Sempai Affan Gaffar tersebut lantas banyak kenshi yang jadi galau memakai osh, oss, dan osu tersebut :-D dikarenakan banyak yang berpendapat bahwa penggunaan kata tersebut tidak sesuai dengan falsafah shorinji kempo yang penuh dengan kasih sayang... (mayoritas dojo di jogja sudah tidak pake kata2 itu lagi saat melakukan rei, walopun masih ada juga kenshi yang refleks bilang oss saat rei :-)) )

lantas apakah hal tersebut memang bertentangan dengan falsafah shorinji kempo? saya menemukan hal yang cukup menarik dalam dokumenter Way of the Warrior: "Shorinji Kempo, The New Way". dalam penjelasan yang diberikan oleh Suzuki Sensei, shorinji kempo ternyata tidak sebegitunya penuh kasih sayang >:-)

beliau menjelaskan, bahwa tiap2 orang harus diperlakukan sebagai "potent enemy" (nah lo....) dan prinsip yang dipegang teguh oleh beliau adalah, "saya hendak menjadi kuat, anda juga hendak menjadi kuat, maka marilah kita menjadi kuat bersama-sama dengan selalu bersungguh2 dalam berlatih"

jadi, apakah "osh" ini bertentangan dengan shorinji kempo? :-D

note: sensei Suzuki itu mengajar filosofi dan Ajaran Agama Budha-Zen di Honbu Tadotsu

sebagai pengantar diskusi di forum.beladiri.info
esensi dari kata osu dan penerapannya
押 忍



Osu, kata ini sering digunakan dalam lingkungan olahraga beladiri di Jepang macam Karatedo, Kendo, Judo, sebagai Greeting between each other. Namun, sebelumnya mari kita coba ditelaah satu demi satu.

押忍 (Osu) terdapat dua huruf 押 (ou; oshi;) yg berarti menahan (huruf yg berupa tangan memegang armor/perisai yg bermakna: menahan) dan 忍 (nin; shino;) yg berarti penderitaan (huruf yg berupa pisau menancap jantung: bermakna derita).

Jadi 押忍 (Osu) ini secara kalimat bermakna sebagai "Menahan Penderitaan".

Implementasinya, kalimat ini diucapkan dlm dunia beladiri Jepang ketika siap untuk menerima/mengemban tugas. Ibarat dr atasan memerintah: "Kamu siap mengerjakan tugas?", yg diperintah berkata: "Siap, Pak!!" (dalam hal ini dia berucap: "Osu!!").

Jadi tugas dr atasan tsb diibaratkan sbg suatu beban derita. dan si penerima tugas mengkondisikan siap untuk menahan beban derita tsb.

Nah, skrg yg jadi salah kaprah adalah mengucapkan kata/kalimat tsb sbg greeting ataupun ketika ditanya sesuatu, misal lg praktek suatu teknik dan ditanya: "Sakit apa tidak?", malah dijawab "Osu!". Harusnya yg tepat itu dijawabnya dng: "Sakit, Pak!" atau "Ittai!!"

Dan, bagaimana dng hal ini di lingkungan anda, khususnya style2 di tempat latihan beladiri Jepang di lingkungan sekitar anda? mari kita diskusikan lebih lanjut. :-)

Referensi: http://ja.wikipedia....%8A%BC%E5%BF%8D

pendapat oom Ben Haryo dari Wado-ryu



Posted 30 January 2012 - 02:18 PM
kalau di perguruan WADOKAI (my Karate style) yang di Indonesia, OSH masih dipakai, tapi kalau menurut shihan C.A. Taman, OSH itu sekedar ciri khas SALAM KARATE! gitu, yang diadopsi dari salam Karate di dojo mahasiswa/Dojo perguruan tinggi di Japan. Jadi tidak di breakdown secara abbreviatif atau secara etimologinya. Nggak di pilah jadi Oshu Shinobu atau Ohayo Gozaimasu, melainkan diterima sebagai sebuah istilah yang melambangkan kebersamaan/suatu simbol yang disepakati bersama sebagai ciri khas dojo mahasiswa.

Tapi biasa lah, makin jauh dari sumbernya kan makin ga jelas. Saya juga pernah koq ketemu teman sesama Wado yang dikit-dikit OSH... :-) 
Posted 30 January 2012 - 04:57 PM
hehehe.. asal semuanya diperjelas kepada murid2, bahwa OSH OSH dalam segala kesempatan itu adalah "ciri" atau "tradisi" di INDONESIA dan bukan di negara asalnya, jadi kalau ada sensei Japan dateng, jangan ber OSH OSH ria, kasian nanti bingung itu sensei Japan :-P
jadi sementara bisa saya simpulkan, bahwa osu itu adalah kebudayaan indonesia, bukan dari jepang :D