Tampilkan postingan dengan label kempo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kempo. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juni 2016

Belajar dan mengajar beladiri, nowdays

Tergugah nulis blog lagi, gara2 beberapa teman share tulisan di blog ini, saya punya pandangan yang agak berbeda.
Kebetulan saya belajar beladiri yang sama dengan penulis di blog itu (dan juga kota yang sama), cuma saya mulai belajar saat anak2 (tahun 1991 saya mulai belajar, sampai 1997, setelah itu vakum sampai aktif lagi 2012 kemarin).
Secara garis besar, jaman dulu kami serupa dalam belajar beladirinya. Panggilan "sayang" berupa sensus kebun binatang, latihan monoton yang keras, sampai indoktrinasi kalo beladiri kita itu über alles, semua mirip (kecuali "sentuhan fisik" soalnya saya masih junior, hehehehe...)
1997, saat kelas 2 smp, saya pindah ke kota pelajar. Disini saya sempat mengalami gegar budaya, dimana latihan disini 3x lebih keras (indeed, apakah karena apes masuk dojo untuk tc, atau emang sehari2 seperti itu saya ga tau), sehingga saya masuk ke tahap untuk muak berlatih lagi.
Walaupun sampai pada tahap muak, tapi dalam hati saya masih cinta dengan beladiri saya ini (true). Saya masih buka-buka diktat lama, nonton latihan (nonton doang, mesti ga jarang Mas Adri nyuruh ikut dan ganti Dogi), dan ketika pertama kali kenal internet, dimana anak lain pada sibuk cari bokep atau animr, saya malah cari2 artikel tentang beladiri saya ini... Wakakakakaka lucu dah.
Di era 1997-2012, saya melihat beladiri saya dari luar. Segala referensi saya lahap, kontroversi2 saya baca. Hasilnya pemahaman saya menjadi berubah dari pemahaman teman2 saya sesama praktisi beladiri tersebut secara mainstream.
Selain itu, saya sesekali main ke beberapa dojo untuk sekedar melihat atau bahkan ikut latihan. Pasang surut anggota saya lihat. Dari yang latihan 40orang sampai tinggal 4 orang, lalu naik lagi sampai 20 orang/latihan (belum bisa mengalahkan era tahun <2000 tentang jumlah peserta latihan rata2).
Selain itu, saya juga melihat penurunan kualitas penguasaan, apalagi pemahaman teknik. Seorang sabuk biru gerakannya sangat kacau, mirip sabuk putih, dan banyak lagi (di era setelah 2012 saya jumpa masih banyak yang seperti itu, bahkan lebih parah).
Akhirnya, pada 2011 saya bertemu teman2 satu aliran dalam kunjungan nonton SEA Games di Jakarta (termasuk penulis blog yang saya link di atas itu), sayapun terpanggil untuk aktif lagi. Saya kembali masuk ke dalam dan melihat dari dalam.
Ternyata teknik mengajar, tidak banyak berubah dari masa saya aktif dulu pada masa 1997 ke belakang.
Sempai mengajarkan teknik seperti sempainya dulu mengajarinya. Tidak jarang, si sempai tersebut tidak bisa menjawab pertanyaan berkaitan dengan teknik tersebut yang diberikan oleh kohainya.
Selain itu, satu teknik bisa berbeda2 cara eksekusinya, tergantung dulu gimana sang sempai diajari sempainya dulu. Dan, terkadang banyak yang memaksakan bahwa "my way is the only way", selain itu salah.
Metode pelajaran ini mirip seperti fotokopi. Materi difotokopi, lalu fotokopian tersebut diajarkan ke bawah, fotokopian materi tersebut kembali difotokopi untuk diteruskan ke bawah, begitu seterusnya. Tidak jarang, materi yang disampaikan sekarang itu bisa sangat kabur/tidak jelas karena proses fotokopi berulang tersebut.
Terus gimana?
Perlu diakui, SDM Pelatih sepertinya saat ini kualitasnya tidak sebaik dulu. Kita bicara secara umum, bahkan guru pun tidak sebaik dulu kualitasnya dalam mengajar. Saya dulu kelas 2 sd sudah apal perkalian satu digit, perkalian susun, pembagian susun sederhana. Tapi ketika saya nemenin ponakan kelas 2 sd belajar, konsep dasar aritmetikanya saja belum nyantol.... Yak, separah itu....
Konsep dasar... Ya... Konsep dasar
Masa sekarang, ga perlu kita menghapalkan materi pelajaran. Semua sudah tersedia di Internet. Dulu kita dipaksa menghapalkan bahwa Tunki Ariwibowo adalah Mentri Muda Perindustrian, Joop Ave adalah Menparpostel, Murdiyono adalah Mensesneg, hapal Eka Prasetya Pancakarsa, Butir2 Pancasila, dan banyak lagi. Anak2 sekarang (bahkan orang tua) banyak yang tidak tahu siapa Lukman Hakim Syarifudin, Heroe Soelistyawan, dan nama2 pejabat pemerintahan lainnya.
Era sudah berbeda...
Dulu pengajaran dalam metode 5w1h, lebih mengutamakan Who, What, Where, When. Sementara sekarang Why dan How lebih menarik (karena memang  terkadang hal ini tidak tercover dalam materi konvensional). Seperti materi sejarah Perang kemerdekaan, Why dan How selalu dari sudut pandang RI, sementara sudut pandang Belanda diabaikan.
Bagaimana dengan beladiri? Ternyata sama saja!
Why dan how terkadang diabaikan... Tunggu, kenapa how malah diabaikan, sementara kita belajar teknik beladiri?? Nah, ini adalah konsep dasar tadi itu.
Kalau belajar cara fotokopi, konsep dasar ini sering miss, dulu diajarkan "begini" nah, kenapa sampai bisa "begini" ini tidak tersurat. Kenapa kaki melangkah ke depan? Kenapa pakai kuda2 ini, kenapa posisi tangan begini? Terkadang tidak bisa dijelaskan ini adalah "why".
How malah lebih parah lagi, gimana cara eksekusi teknik ini kalau lawan xxx, gimana cara eksekusi teknik ini kalau lawan yyy. Kalau cuma bisa satu kondisi, tentu ketika ketemu kondisi lain kita akan kebingungan.
Satu teknik dasar, kalau dikulik cukup dalam, bisa makan waktu yang lama. Nah sebagai pelatih, kita harus bisa menangkap konsep dasar tersebut, lalu mengembangkannya dalam koridor yang sudah ditentukan, lalu kita share kepada kohai/murid kita.
Perdalam materi, ikutlah latihan di tempat lain, hadiri gathering/gashuku/seminar beladiri. Kembangkanlah materi yang ada. Kita sebagai pelatih, tentu bisa menyerap materi lebih baik daripada orang awam buka youtube. Jangan sampai murid/kohai kita lebih menguasai materi hanya dengan bermodalkan video youtube #gengsidong hehehe...
Intinya adalah, jaman sudah berubah, kita harus bisa menyesuaikan diri dengan jaman kalau tidak mau dilindas olehnya

Jumat, 22 Maret 2013

Hierarki?


Ketika foto ini saya share di timeline saya dari page "anda bertanya, habib rizieq menjawab", beberapa komen merasa salut dengan Chavez. Tapi, ada satu komen dari sempai Johny Sadaka, yang menyatakan jangan dengan mudah menyalahkan orang.

Saya pun berpikir, pada awalnya saya mempunyai pikiran kalau sempai Johny Sadaka tidak tahu page seperti apa #abhrm itu. Tapi kemudian saya pikir lagi, kemungkinan ada perbedaan pemahaman lintas generasi yang terjadi. Seperti yang ada dalam janji kempo, "...menghormati atasan, tidak meremehkan bawahan, saling mengasihi, saling menolong...", tentu tampak yang foto kedua, dimana pada berebut untuk mencium tangan raja/syeikh Qatar adalah perwujudan dari poin menghormati atasan.

Tapi,kembali lagi. Dalam Rapernas Perkemi 2013 kemarin, ss. Indra Kartasasmita menyatakan kurang lebih isinya, "Dalam Kempo tidak ada yang namanya Demokrasi, yang ada hanyalah Hierarki". Hierarki itu sifatnya vertikal, sementara Demokrasi itu sifatnya horizontal. Ketika atasan/senior berkata A, maka bawahan/junior pun harus mengikuti, menyetujui, dan menjalankan A tersebut. Inilah hierarki yang menekankan diri pada poin menghormati atasan yang ada dalam janji tersebut.

Tapi, kembali lagi.... Saya sering melihat kalau sempai cenderung lebih mengalah dan sayang kepada Kohainya. Dalam Gashuku, kyukenshi lebih diutamakan untuk makan dulu, sementara Yudansha makan belakangan kalau yang Kyukenshi sudah dapat jatah makan semua. Suatu ketika saat rapat, para sesepuh kempo Kota Yogya tidak makan snack box yang disiapkan panitia ketika melihat tidak semua peserta rapat dapat, mereka malah menyuruh semua snack box itu dibuka dan isinya dibagi kepada seluruh peserta rapat. Ada temen yang baru dapat rejeki sedikit, lantas mengajak kohai2nya di dojo untuk mancing ikan bareng. Almarhum papa juga sering "nyangoni" kohainya ketika mereka berkunjung ke kantor (yang saya ingat, ketika papa dinas di Tasikmalaya, ada beberapa kohai dari Tegal datang ke kantor.. entah urusan apa, dan pulangnya disangoni)

Jadi kembali lagi ke foto diatas, manakah yang bisa dikatakan pemimpin sejati? Masing masing tentu memiliki dasar dan pemahaman tertentu sehingga bisa memilih :)

posted from Bloggeroid

Jumat, 05 Oktober 2012

We salute the rank, not the man


Winters: Captain Sobel.
Sobel: Major Winters. [starts to walk away]
Winters: Captain Sobel... we salute the rank, not the man. [Sobel slowly turns and salutes]
-band of brothers

Kita hormat pada pangkat/posisi, bukan pada orangnya, kira-kira seperti itulah terjemahan bebasnya. Dalam hal ini, salute, bukan respect. Tetapi, dalam bahasa Indonesia, tidak dibedakan antara salute dan respect, bahkan bagi beberapa orang worship pun masuk dalam makna hormat :p

Nah, sepertinya banyak yang melupakan atau memang mengabaikan perbedaan makna antara salute dengan respect ini. Banyak yang merasa karena dia dihormati, otomatis dia memperoleh respect dari orang yang menghormatinya sebatas salute saja.

Dalam janji kempo, disebutkan "...menghormati atasan, tidak meremehkan bawahan..." nah, tidak dijelaskan apakah salute atau respect yang dimaksud disini. Tapi, pada prakteknya setiap bertemu senior kenshi yang lebih junior memberikan rei terlebih dahulu. Rei sendiri adalah bentuk penghormatan/salute di dalam kempo. Apakah kohai tersebut respect kepada sempai/sensei yang diberi rei, wallahualam :)

Saya sendiri sekarang sudah pada taraf "salute only" kepada beberapa sempai dan sensei di Indonesia, karena respect saya berangsur-angsur menurun kepada beliau-beliaunya.

Masukan kepada siapapun yang mau memerimanya, pikir lagi deh, kalau kita diberi hormat/salute, apakah kita memang layak untuk dihormati/respect?
posted from Bloggeroid

Sabtu, 15 September 2012

Jadwal Pertandingan Kempo PON 2012

SABTU 15 September 2012

08.30-09.00 Upacara Pembukaan

09.30-10.30 Babak I Embu Beregu
Court A Putra (6x)
Court B Putri (6x)

09.30-10.30 Penyisihan Randori Pool A [a1-a2, a3,a4]
60Kg Putra Court A (2x)
65Kg Putra Court B (2x)
70Kg Putra Court A (2x)
45Kg Putri Court B (2x)
48Kg Putri Court A (2x)
51Kg Putri Court B (2x)

10.35-11.00 Babak I Embu Pasangan Putra
Court A Pasangan I Dan (6x)
Court B Pasangan II/III Dan (6x)

11.05-12.05 Penyisihan Randori Pool B [b1-b2, b3-b4]
60Kg Putra Court A (2x)
65Kg Putra Court B (2x)
70Kg Putra Court A (2x)
45Kg Putri Court B (2x)
48Kg Putri Court A (2x)
51Kg Putri Court B (2x)

12.05-14.00 ISTIRAHAT

14.05-15.05 Penyisihan Randori Pool A [a1-a3, a2-a4]
60Kg Putra Court A (2x)
65Kg Putra Court B (2x)
70Kg Putra Court A (2x)
45Kg Putri Court B (2x)
48Kg Putri Court A (2x)
51Kg Putri Court B (2x)

15.10-15.40 Babak I Embu Pasangan Putri
Court A Pasangan I Dan (7x)
Court B Pasangan II/III Dan (6x)

15.45-16.45 Penyisihan Randori Pool B [b1-b3, b2-b4]
60Kg Putra Court A (2x)
65Kg Putra Court B (2x)
70Kg Putra Court A (2x)
45Kg Putri Court B (2x)
48Kg Putri Court A (2x)
51Kg Putri Court B (2x)


MINGGU 16 September 2012

08.30-09.00 Upacara Tradisi Kempo

09.00-09.30 Babak I Embu Pasangan Campuran
Court A (7x)

09.35-10.35 Penyisihan Randori Pool A
60Kg Putra Court A (2x) [a1-a4, a2-a5]
65Kg Putra Court B (2x) [a1-a4, a2-a5]
70Kg Putra Court A (2x) [a1-a4, a2-a5]
45Kg Putri Court B (2x) [a1-a4, a2-a5]
48Kg Putri Court A (2x) [a1-a4, a2-a5]
51Kg Putri Court B (2x) [a1-a4, a2-a5]

10.40-11.05 Babak I Embu Pasangan Putra
Court A Pasangan I Dan (6x)
Court B Pasangan II/III Dan (6x)

11.10-12.10 Penyisihan Randori Pool B
60Kg Putra Court A (2x) [b1-b4, b2-b3]
65Kg Putra Court B (2x) [b1-b4, b2-b3]
70Kg Putra Court A (2x) [b1-b4, b2-b5]
45Kg Putri Court B (2x) [b1-b4, b2-b3]
48Kg Putri Court A (2x) [b1-b4, b2-b3]
51Kg Putri Court B (2x) [b1-b4, b2-b3]

12.10-14.00 ISTIRAHAT

14.05-14.25 Upacara Penghormatan Pemenang
Embu Pasangan Putra I Dan
Embu Pasangan Putra II/III Dan

14.30-15.00 Babak II Embu Pasangan Putri
Court A Pasangan I Dan (7x)
Court B Pasangan II/III Dan (6x)

15.05-16.05 Penyisihan Randori Pool A
60Kg Putra Court A (2x) [a1-a5, a2-a3]
65Kg Putra Court B (2x) [a1-a5, a2-a3]
70Kg Putra Court A (2x) [a1-a5, a2-a3]
45Kg Putri Court B (2x) [a1-a5, a2-a3]
48Kg Putri Court A (2x) [a1-a5, a2-a3]
51Kg Putri Court B (2x) [a1-a5, a2-a3]

16.10-16.30 Penyisihan Randori Pool B
70Kg Putra Court A (2x) [b1-b5, b2-b3]

16.35-16.55 Upacara Penghormatan Pemenang
Embu Pasangan Putri I Dan
Embu Pasangan Putri II/III Dan


SENIN 17 September 2012


ISTIRAHAT



SELASA 18 September 2012

08.30-09.00 Upacara Tradisi Kempo

09.00-09.25 Babak I Embu Beregu Campuran
Court B (6x)

09.30-10.10 Penyisihan Randori
60Kg Putra Court A (1x) [a3-a5]
65Kg Putra Court B (1x) [a3-a5]
70Kg Putra Court A (1x) [a3-a5]
45Kg Putri Court B (1x) [a3-a5]
48Kg Putri Court A (1x) [a3-a5]
51Kg Putri Court B (1x) [a3-a5]
70Kg Putra Court A (1x) [b3-b5]

10.15-10.40 Babak II Embu Beregu Putra
Court A (6x)

10.45-11.10 Babak II Embu Beregu Putri
Court B (6x)

11.15-11.35 Upacara Penghormatan Pemenang
Embu Beregu Putra
Embu Beregu Putri

11.40-.14.00 ISTIRAHAT

14.05-14.35 Babak II Embu Pasangan Campuran
Court A (7x)

14.40-15.20 Penyisihan Randori
60Kg Putra Court A (1x) [a4-a5]
65Kg Putra Court B (1x) [a4-a5]
70Kg Putra Court A (1x) [a4-a5]
45Kg Putri Court B (1x) [a4-a5]
48Kg Putri Court A (1x) [a4-a5]
51Kg Putri Court B (1x) [a4-a5]
70Kg Putra Court A (1x) [b4-b5]

15.25-15.35 Upacara Penghormatan Pemenang
Embu Pasangan Campuran



RABU 19 September 2012

08.30-09.00 Upacara Tradisi

09.05.09.30 Babak II Embu Beregu Campuran
Court B (6x)

09.35-10.05 Semi Final Randori [A1-B2, A2-B1]
60Kg Putra Court A (2x)
65Kg Putra Court B (2x)

10.10-10.40 Semi Final Randori [A1-B2, A2-B1]
70Kg Putra Court A (2x)
45Kg Putri Court B (2x)

10.45-11.15 Semi Final Randori [A1-B2, A2-B1]
48Kg Putri Court A (2x)
51Kg Putri Court B (2x)

11.20-11.30 Upacara Penghormatan Pemenang
Embu Beregu Campuran

11.30-14.00 ISTIRAHAT

14.05-10.20 Final Randori
60Kg Putra Court A
45Kg Putri Court B

Upacara Penghormatan Pemenang
14.25-14.35 Randori 60Kg Putra
14.40-14.50 Randori 45Kg Putri

14.55-15.10 Final Randori
48Kg Putri Court A
65Kg Putra Court B

Upacara Penghormatan Pemenang
15.15-15.25 Randori 48Kg Putri
15.30-15.40 Randori 65Kg Putra

15.45-16.00 Final Randori
51Kg Putri Court A
70Kg Putra Court B

Upacara Penghormatan Pemenang
16.05-16.15 Randori 51Kg Putri
16.20-16.30 Randori 70Kg Putra

16.35-17.00 UPACARA PENUTUPAN

posted from Bloggeroid

Kamis, 09 Februari 2012

Gassho Rei dan Osu








 Banyak kenshi merasa galau dengan kebiasaan mengucap kata osu ketika melakukan rei. Hal ini dikarenakan tulisan Alm. Sempai Affan Gaffar berikut ini

Salam Persaudaraan

Belum lama ini ada pertanyaan dari kenshi, tentang adanya himbauan supaya kenshi Indonesia untuk tidak menggunakan ucapan Oss lagi, tapi menggunakan Onegaisimasu (baca Onegaisimas). Sebenarnya apa makna dari dua kata itu? Apa perbedaannya? Haruskah kita tidak mengucapkan Oss lagi? Supaya tidak ada kesalahkaprahan, karena ketidakpahaman akan bahasa Jepang, di bawah ini akan dicoba dipaparkan sedikit penjelasan, sejauh pemahaman yang saya punya. Kalau ada yang tahu lebih dalam, silahkan dikoreksi.
Oss, sebenarnya dari huruf kanji Ossu, yang terdiri dari dua huruf kanji, yaitu Ossu 押 , yang berarti menekan dan sinobu 忍 yang juga berrati menekan. Huruf kanji dari sinobu 忍 berbentuk katana (pedang) di atas kokoro (hati). Jadi, Oss,bisa diartikan sebuah sikap atau kehendak untuk menekan diri sendiri, atau menaklukkan diri. Jadi, setiap kali mengucapkan oss, makna terpendam sebenarnya menyatakan kesediaan menaklukkan diri sendiri. Adapun makna harafiah dari Oss, bisa diterjemahkan sebagai ya, atau yes, atau yes sir, atau baik pak , baik bu, baik sempai, atau nggih kalau dalam bahasa jawa, atau secara luas juga bisa diartikan siap laksanakan kalau bahasa tentara. Umumnya, kata Oss ini digunakan oleh karateka, namun demikian beladiri lain pun seperti Judo, aikido, kendo, dan juga Kempo juga lazim menggunakannya.
Karena arti dari Oss itu seperti itu, sementara Kenshi Indonesia umumnya karena tidak paham benar artinya, selalu menggunakan Oss dalam kesempatan apapun, sehingga ada kalanya kurang tepat. Ketika dikunci, dan merasakan kesakitan kenshi di Indonesia akan bilang Osssss. Kehendak hati ingin mengatakan, teknikmu benar kawan, ini sakit bener aku. Namun, karena Oss itu artinya seperti di jelaskan di atas, maka ketika Sensei dari Jepang datang dan mempraktikkan teknik kepada Kenshi Indonesia, dan kenshi Indonesia teriak Ossss, dia bingung. Orang dikunci kok malah bilang "yaaaaa". Makanya, kalau teman-teman ada yang ingat, Sensei dari Honbu yang datang biasanya kepada kenshi yang dikunci kalau mau memberitahu kepada yang ngunci bahwa sakit disuruh bilang itai (artinya- sakit), jangan bilang Oss. Mungkin (ini dugaan saya), dulu awal mula para sempai/sensei senior dari Jepang ketika latihan kan yang ngunci tanya pada yang dikunci, udah bener belum kunciannya, sakit enggak. Kalau sakit, maka dia jawab Oss, artinya ya (karena ditanya, sakit enggak (Itai desu ka), dijawab Oss.- Ya).
Jadi, kalau dalam terminologi bahasa, kata Oss sah-sah saja digunakan, asal tepat pada tempatnya. Oleh karenanya orang Jepang atau yang ngerti bahasa Jepang akan mengerutkan kening kalau lihat embu kenshi Indonesia, karena dalam setiap kuncian akan teriak oossss, setiap kali ketemu dan gasho rei bilang Oss. Pagi-pagi ketemu di dojo waktu gashuku saling gasho rei, bilang Oss. Mestinya ya gasho rei sambil ucapkan salam, kalau di jepang bilang Ohayougosaimasu, kalau kita ya sambil gashi rei bilang Selamat Pagi. Kalau malam, ya ketemu sambil gasho rei bilang Selamat Malam.
Memang kadang, kalau di kampus di Jepang mudah ditemui mahasiswa yang junior akan mengucap salam lengkap, misalnya ohayougosaimasu kalau pagi, sementara yang senior dengan santai jawab Oss. Jawaban Oss atas ucapan salam itu kurang sopan, atau hanya boleh dijawab dari yang senior kepada yang junior, itupun hanya dilakukan kalau kepada orang dalam. Artinya kalau kepada tamu, atau orang yang bukan anggota dojo atau kelompoknya, maka jawabannya seperti itu tidak sopan. Jadi ketika si junior bilang selamat pagi, seniornya malas jawab selamat pagi juga, dia hanya jawab ya (oss), begitu tata kramanya yang hanya boleh dilakukan oleh senior dan itupun pada orang dalam kelompoknya sendiri, bukan orang yang baru kenal meskipun sesama kenshi kalau gak kenal ya akan pakai bahasa sopan. Pun demikian, akan lebih baik kalau senior pun menjawab lengkap, ohayougosaimasu juga, kalau itu pagi hari.
Nah, adapun di Jepang, kenshi Jepang sudah jarang menggunakan kata Osh. Bukan tidak ada sama sekali, beberapa masih menggunakannya. Kalau memulai latihan, atau mau berpasangan dan gasho rei, biasanya yang diucapkan adalah Onegaisimasu. Secara harafiah arti, onegaisimasu berarti please, atau mohon kesediaan anda untuk ...(kalau latihan ya melatih saya, atau berlatih bersama saya, kalau minta tolong ya menolong saya). Nah, ini bukan berarti kata Osh digantikan oleh kata onegasimasu. Dalam kontek, memulai latihan, kata Oss dan onegasimasu memiliki arti yang relatif sama. Tapi, kalau dari sudut sopan santun, maka onegasimasu lebih sopan (bahasa jepang mengenal tingkatan seperti bahasa Jawa dan Sunda). Saya kira lebih sopan itu yang menjadi alasan sekarang kenshi Jepang lebih memilih menggunakan kata onegasimasu, ketika gasho rei masuk dojo, atau ketika mau memulai latihan, atau berpesangan, atau memulai sesuatu yang melibatkan kenshi/orang lain. Nah, kalau kenshi Indonesia mau meninggalkan penggunaan Oss, dan mengganti dengan Onegaisimasu yang lebih sopan/halus, itu tidak ada salahnya, hanya harus diingat, jangan buat kesalahan yang sama dengan penggunaan Oss lagi. Jangan nanti, kalau dikunci dan kesakitan juga bilang onegaisimasu. Selesai berpasangan (dulu bilang oss lagi) sekarang jangan terus juga bilang onegaisimasu (karena berarti minta latihan lagi). selesai dihukum (kalau lakukan kesalahan) oleh sempainya jangan bilang onegaisimasu (karena berarti minta dihukum lagi). Kalau mau menggunakan terminologi baru onegaisimasu ketika memulai latihan, atau mengawali satu kegiatan yang melibatkan pasangan bicara kita, maka ketika selesai yang mesti diucapkan arigato gosaimasu (terima kasih), bukan lagi onegaisimasu. Begitu juga ketika selesai latihan dan keluar dojo ketika gasho rei ke dojo juga bilangnya arigato gosaimasu (bukan onegaisimasu). Kalau selesai latihan, atau selesai melaksanakan satu kegiatan bersama, bilangnya kepada sesama kenshi adalah otsukaresamadesita (kadang disingkat otsukaresamades) artinya kurang lebih terima kasih telah/ untuk kerja keras/susah payah/perjuangan anda (bersama-sama).
Jadi kata Oss boleh tidak? Menurut hemat saya, surat dari PB PERKEMI itu maksudnya bukan tidak boleh, tapi pakailah pada tempatnya yang pas sesuai artinya. Kalau ada kata yang lebih sopan seperti onegaisimasu, pakailah onegaisimasu, tapi juga tepat pada tempatnya. Masih ingat, beberapa waktu sebelumnya ada juga himbauan dari PB PERKEMI tentang penyebutan Sempai? Ya. Inti persoalan juga sama. Karena banyak kenshi Indonesia panggil simpai, bukan sempai. Padahal simpai artinya khawatir. sedangkan sempai artinya, kakak/abang atau senior. Juga banyak kenshi Indonesia bilang sinse, padahal yang benar dalam bahasa jepang Sensei ( Sen artinya yang lebih dulu Sei artinya lahir). Kenapa kenshi Indonesia bilang sinse? Karena kita terbiasanya dengan kata sinse untuk tabib pengobatan atau guru dalam bahasa China. Semoga bermanfaat. Kalau ada yang salah, silahkan dikoreksi.

Demi Tanah Air, Demi Persaudaraan, Demi Kemanusiaan
http://perkemidiy.mu...an_Onegaisimasu



Gara2 tulisan alm. Sempai Affan Gaffar tersebut lantas banyak kenshi yang jadi galau memakai osh, oss, dan osu tersebut :-D dikarenakan banyak yang berpendapat bahwa penggunaan kata tersebut tidak sesuai dengan falsafah shorinji kempo yang penuh dengan kasih sayang... (mayoritas dojo di jogja sudah tidak pake kata2 itu lagi saat melakukan rei, walopun masih ada juga kenshi yang refleks bilang oss saat rei :-)) )

lantas apakah hal tersebut memang bertentangan dengan falsafah shorinji kempo? saya menemukan hal yang cukup menarik dalam dokumenter Way of the Warrior: "Shorinji Kempo, The New Way". dalam penjelasan yang diberikan oleh Suzuki Sensei, shorinji kempo ternyata tidak sebegitunya penuh kasih sayang >:-)

beliau menjelaskan, bahwa tiap2 orang harus diperlakukan sebagai "potent enemy" (nah lo....) dan prinsip yang dipegang teguh oleh beliau adalah, "saya hendak menjadi kuat, anda juga hendak menjadi kuat, maka marilah kita menjadi kuat bersama-sama dengan selalu bersungguh2 dalam berlatih"

jadi, apakah "osh" ini bertentangan dengan shorinji kempo? :-D

note: sensei Suzuki itu mengajar filosofi dan Ajaran Agama Budha-Zen di Honbu Tadotsu

sebagai pengantar diskusi di forum.beladiri.info
esensi dari kata osu dan penerapannya
押 忍



Osu, kata ini sering digunakan dalam lingkungan olahraga beladiri di Jepang macam Karatedo, Kendo, Judo, sebagai Greeting between each other. Namun, sebelumnya mari kita coba ditelaah satu demi satu.

押忍 (Osu) terdapat dua huruf 押 (ou; oshi;) yg berarti menahan (huruf yg berupa tangan memegang armor/perisai yg bermakna: menahan) dan 忍 (nin; shino;) yg berarti penderitaan (huruf yg berupa pisau menancap jantung: bermakna derita).

Jadi 押忍 (Osu) ini secara kalimat bermakna sebagai "Menahan Penderitaan".

Implementasinya, kalimat ini diucapkan dlm dunia beladiri Jepang ketika siap untuk menerima/mengemban tugas. Ibarat dr atasan memerintah: "Kamu siap mengerjakan tugas?", yg diperintah berkata: "Siap, Pak!!" (dalam hal ini dia berucap: "Osu!!").

Jadi tugas dr atasan tsb diibaratkan sbg suatu beban derita. dan si penerima tugas mengkondisikan siap untuk menahan beban derita tsb.

Nah, skrg yg jadi salah kaprah adalah mengucapkan kata/kalimat tsb sbg greeting ataupun ketika ditanya sesuatu, misal lg praktek suatu teknik dan ditanya: "Sakit apa tidak?", malah dijawab "Osu!". Harusnya yg tepat itu dijawabnya dng: "Sakit, Pak!" atau "Ittai!!"

Dan, bagaimana dng hal ini di lingkungan anda, khususnya style2 di tempat latihan beladiri Jepang di lingkungan sekitar anda? mari kita diskusikan lebih lanjut. :-)

Referensi: http://ja.wikipedia....%8A%BC%E5%BF%8D

pendapat oom Ben Haryo dari Wado-ryu



Posted 30 January 2012 - 02:18 PM
kalau di perguruan WADOKAI (my Karate style) yang di Indonesia, OSH masih dipakai, tapi kalau menurut shihan C.A. Taman, OSH itu sekedar ciri khas SALAM KARATE! gitu, yang diadopsi dari salam Karate di dojo mahasiswa/Dojo perguruan tinggi di Japan. Jadi tidak di breakdown secara abbreviatif atau secara etimologinya. Nggak di pilah jadi Oshu Shinobu atau Ohayo Gozaimasu, melainkan diterima sebagai sebuah istilah yang melambangkan kebersamaan/suatu simbol yang disepakati bersama sebagai ciri khas dojo mahasiswa.

Tapi biasa lah, makin jauh dari sumbernya kan makin ga jelas. Saya juga pernah koq ketemu teman sesama Wado yang dikit-dikit OSH... :-) 
Posted 30 January 2012 - 04:57 PM
hehehe.. asal semuanya diperjelas kepada murid2, bahwa OSH OSH dalam segala kesempatan itu adalah "ciri" atau "tradisi" di INDONESIA dan bukan di negara asalnya, jadi kalau ada sensei Japan dateng, jangan ber OSH OSH ria, kasian nanti bingung itu sensei Japan :-P
jadi sementara bisa saya simpulkan, bahwa osu itu adalah kebudayaan indonesia, bukan dari jepang :D





Senin, 30 Januari 2012

Sejarah Shorinji Kempo, Berdirinya sampai masuk ke Indonesia

Pengertian tentang Kempo

Di Indonesia, Kempo adalah Shorinji Kempo....
Secara umum, kenpo adalah term generik untuk "beladiri", instead "budo"
Shorinji Kempo, literally shaolin temple's fist way... Tetapi... Shorinji Kempo tidak sama dengan Shaolin-quan....
Jadi kalo mau lengkap, kita harus menyebut "Nihon Shorinji Kempo"...

Balik lagi, PERKEMI adalah Persaudaraan Beladiri Kempo Indonesia (tanpa embel-embel Shorinji)
Tetapi perlu dipahami juga, kalau Perkemi menginduk kepada WSKO (World Shorinji Kempo Organization) jadi "Kempo" kita adalah Shorinji Kempo.
Dalam so en kita pun, sudah jelas tertulis "Shorinji Kempo®"

Maka saya jelaskan mengenai penggunaan term "Kempo", apakah skup nasional atau internasional, pemahaman secara khusus atau pemahaman secara lokal umum.
---------
Notes: di Jepang pun ada yang namanya Nihon Kenpo, yang sama sekali berbeda dengan Shorinji Kempo yang diciptakan oleh Kaisho So Doshin.... 


Posted Image





Nakanao Michiomi – Kaiso
Dilahirkan di suatu desa yang terletak di suatu lereng gunung kecil di daerah administrasi Okuyama tahun, 1911. Anak sulung dari tiga bersaudara, ayahnya adalah seorang pegawai biasa. Michiomi kecil ditinggal ayahnya ketika berumur delapan tahun. Sehingga ia harus mengasuh dua adik perempuannya ketika ditinggal ibunya untuk bekerja menggantikan ayahnya. Akhirnya dua saudaranya di asuh oleh keluarga dari ibu, sedangkan Michiomi pergi ke Manchuria untuk tinggal bersama kakek dari ayahnya.

Kakek Michio adalah anggota Kokyuryukai (Perkumpulan rahasia Ular Naga Hitam). Dan ia juga seorang yang ahli dalam seni beladiri (budo). Selama 7 tahun kakeknya mengajarkan permainan pedang dan seni permainan tombak, serta perkelahian tanpa senjata, Jujutsu.

Bulan mei tahun 1926 Ibu Nakano Michiomi meninggal dunia, dan iapun kembali ke Jepang. Dan pada tahun yang sama salah satu saudarinya juga menyusul ibunya, setahun kemudian, 1927, saudara satunya lagi juga meninggal dunia. Bukan suatu kebetulan juga ketika akan kembali ke Cina kakeknya juga meninggal ditahun yang sama. Kini Michiomi tinggal sebatang kara, dan iapun pergi ke Tokyo, yang pada waktu itu terjadi depresi ekonomi setelah PD I. Perekonomian tidak teratur dan angka pengangguran tinggi.

Posted Image
Agen Intelegent
Di usai ke 17 tahun, Januari 1928, Michiomi mendaftarkan diri masuk angkatan perang. Dan ditempatkan di Manchuria sebagai Special Expeditionary Force, agen pasukan khusus. Ditugaskan pada sekolah Taoist yang dikepalai oleh Chen Liang. Seorang anggota rahasia Perkumpulan Zaijia Li, dan kepala perkumpulan Bunga Teratai Putih (Byakuren dalam bahasa Jepang), sekolah tinju Shaolin Utara ( Shorin). Sebagai murid Chen, Michiomi mempelajari kempo (Quan Fa – Tinju), dan juga pertama kali Michiomi berkenalan dengan pengajaran Budha. Pengaruh Budha (Chan-Zen) sangat kental dengan beladiri cina.

Tahun 1931 Nakano Michiomi terkena tipus dan dikembalikan ke Jepang. Bergabung dengan Kesatuan Angkatan Udara I. Ketika latihan terbang malam, ia terkena seranga jantung, dan harus mendapatkan perawatan hingga 6 bulan. Para dokter memperkirakan waktu hidupnya 1 sampai 3 tahun.

Bulan Oktober 1931, Michiomi kembali ke Manchuria dan Chen, ditugaskan sebagai agen intelijen. Karena ia berpikir tidak punya umur panjang, Michiomi memilih untuk melakukan berbagai macam misi. Chen bertanya padanya, mengapa ia menginginkan kematian lebih cepat. Michiomi menceritakan apa
yang telah dikatakan dokter kepadanya waktu itu. Chen berkata kepada dia, siapa yang memutuskan hidupmu hanya Cuma setahun? Nasib adalah sesuatu yang Gaib, di luar ken adalah kematian. Kamu tidak akan mati dengan seketika, kamu harus berjuang untuk hidup dengan segala usaha. Aku akan merawatmu mulai hari ini. Michionmi menjalani perawatan dengan pijatan dan teknik akupressur, dalam bahasa jepang disebut Kemyaku iho. Dan dalam istilah ShorinjiKempo sekarang disebut dengan Seiho (seitai jutsu).

Dalam melaksanakan misinya, Michiomi menyamar sebagai gelandangan, menemani Chen. Pada tahun 1932, mereka berada di Beijing, di mana gurunya Chen, Wen Taizong tinggal di sana. Wen waktu itu adalah guru besar dari sekolah Shaolin Utara “Yihemen Quan” , atau Giwamon Ken dalam bahasa Jepang.

Pada waktu masih muda, Wen adalah seorang biarawan kuil Shaolin, dan akhirnya menjadi guru besar menggantikan Huang Longbai. Lalu Wen memperkenalkan Michiomi pada Huang, dan akhirnya mengijinkan menjadi muridnya secara langsung. Huang mengajarkan Michiomi 36 macam kuncian dan teknik gulat naga, yang disebut Longxi Zhuji. Ia juga mempelajari teknik lemparan Wu Hua Quan (Goka Ken, Tinju Lima Bunga), yang akhirnya menjadi dasar prinsip lembut dan keras menjadi satu (Goju Ittai).

Setelah mempelajari beladiri dari kakeknya, kemudian menguasai apa yang telah diajarkan Chen, Michiomi menerima semua pelajaran dengan cepat. Wen berpikir telah menemukan seorang yang cukup cakap. Di musim gugur 1936, Wen dan Michiomi menghidiri upacara di kuil Shaolin, Michiomi di angkat menjadi Guru Besar ke 21 dari Yihemen Quan. Wen menamai di “Doshin So/Zhong Daochang (dalam bahasa Mandarin)”, yang berarti Yang Membantu Jalan Menuju Religius. Dan nama tersebut dipakai sepanjang sisa hidupnya.

Sejak kali pertama bergabung di kuil Shaolin, Doshin amat terkesan dengan lukisan di dinding yang melukiskan Orang India dan Biarawan Cina berlatih dengan menyenangkan dan dilakukan bersama-sama. Metode ini berlawanan denga pelatihan yang selama ini dia lakukan, dan ia mengembangkan gagasan, dimana untuk berlatih harus ada kerja sama dengan pasangannya, untuk kepentingan berdua. Dalam bahasa jepang, konsep ini dinyatakan sebagai “otegai renshu” (berlatih untuk satu sama lain), atau “jita kyuraku” (menikmati dengan orang lain).

Soviet menyerbu Manchuria
Agustus 1945, Soviet menyerbu Manchuria. Angkatan perang Jepang melarikan diri, dan meninggalkan anak-anak dan para wanita di Manchuria. Doshin So merasakan perilaku yang kurang berkenan untuk ikut meninggalkan Manchuria. Akhirnya ia mengalami dua masa pendudukan di Manchuria, yaitu masa Jepang dan masa Soviet. Ia melihat perilaku dari pemenang perang waktu itu, bagaimana cara supaya bisa mempertahankan kedudukannya, tak lain dengan menekan kaum yang lemah. Dan ia pun melihat bagaimana keberanian seseorang untuk melindungi yang lemah dengan bahkan mengorbankan diri mereka. Doshin So mengembangkan pemahamannya, bahwa kualitas seseorang bukan dari kebangsaan mereka tetapi berasal dari individu sendiri.

Ia berkata, " Di masa damai, orang-orang dapat menyembunyikan karakter mereka asli mereka, mereka dapat menghias karakter masing masing, tetapi ketika kekacauan datang, akan terlihat karakter aslinya, tidak lagi terpengaruh oleh hukum yan ada. Aku mempelajari hal ini dari pengalaman dan penderitaan.
Jika kita ingin mencapai kedamaian, tidak ada jalan/cara lain kecuali menegakkan kesadaran hukum yang kuat kuat untuk semua, tidak memihak siapapun. Aku merasakan hal ini ketika berada di Manchuria. Sehingga jika aku dapat kembali ke Jepang, aku akan membuka sekolah swasta untuk membangun ikatan dan jiwa keberanian, serta kepercayaan di hati orang orang muda”.

Kaiso Ke Jepang
Setelah peperangan selesai, orang-orang yang berada di Cina pulang ke Jepang. So Doshin tetap tinggal di Shenyang bersama teman-temannya di masyarakat Cina. Hubungan dengan orang-orang tersebut memungkinkan dia kembali ke Jepang lebih cepat. Temen-teman di Cina mencoba untuk membujuk agar tetap tinggal di dalam Negeri China, dengan alasan Jepang telah dihancurkan Sekutu. Kepada teman temannya Doshin So mengatakan bahwa mungkin Jepang telah hilang, tetapi ia belum pernah hilang, dan masih sebagai orang Jepang. Ia ingin kembali ke Jepang untuk membantu, membangun kembali Jepang. So Doshin mendarat pada Sasebo, daerah di Nagasaki pada tahun 1946. Sepanjang perjalanan pulang tidak jarang ia menggunakan teknik kempo untuk menghindari gangguan dari penumpang yang
lain.

Akhirnya Doshin ke kota kelahiran ibunya. Dan menginap di kemenakannya di Osaka. Ia memulai hidup baru dengan menjalankan bisnis produk bahan kimia bersama temannya dari Cina. Dari sini Doshin dapat bertahan hidup dan pendapatkan kenyamanan. Pada waktu yang sama, Doshin melihat penderitaan yang diakibatkan oleh perang, inflasi, kemiskinan, pengangguran, memicu orang melanggar hukum dan orang tidak mau mendengarkan suara hati untuk orang lain. Ia ditawari beberapa lahan di Tadotsu, suatu daerah pedesaan dan pelabuhan di pulau Shikoku, Daerah administrasi Kagawa. Dan akhirnya Tadotsu telah menjadi Mecca untuk Shorinji Kempo.

Posted Image
Mendirikan Shorinji Kempo
Doshin So memulai dengan membangun aula kecil, dan memberi pengajaran dan filosofi pada Oktober 1947. Pada awalnya ia tidak begitu diterima, karena dianggap orang asing di daerah tersebut, dan juga pengajaran yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah ada. Yang datang untuk mendengarkan hanya sedikit, tapi yang kembali lagi lebih sedikit lagi.

Ketika So Doshin sedang mempertimbangkan bagaimana cara yang tepat untuk mengajarkan filosofinya, dalam suatu mimpinya ia bertemu dengan Bodhidharma, berjenggot dan berpakaian seperti biarawan budha, berjalan dengan cepat dihadapan So Doshin, ia berusaha berbicara pada Bodhidharma tetapi tidak dapat mendengarnya, Bodhidharma hanya menunjukkan satu arah dari tangannya, So Doshin berusaha memahami mimpinya. Akhirnya ia memutuskan untuk memberikan pengajaran Zen Budhisme, seperti ketika ia belajar di Kuil Shaolin. Yang kemudian ia gabungkan dengan filosofi yang pernah ia terima.Bukan pengajaran yang berhubungan dengan peperangan untuk memenangkan lawan, tetapi lebih kepada pelatihan jasmani dan peningkatan rohani untuk kemajuan bersama. Doshin akhirnya mengorganisir kembali sistem teknik yang telah ia pelajari sebelumnya dan menyelaraskan dengan pemahamannya akan Zen Budhisme.

Posted Image
Kota Tadotsu sedang dalam kekacauan, banyak penjahat dan pasar gelap setelah perang berakhir. So Doshin mengajarkan teknik kempo kepada muridnya dengan cepat. Dan bersama muridnya turun ke jalan untuk menantang penjahat yang ada di jalanan, karena ia berpikir, dengan pengguanaan teknik yang dikuasai untuk kebaikan hal itu adalah benar.
Posted Image
Bersama dengan polisi setempat Doshin So berhasil mengamankan kota. Untuk memastikan muridnya tidak kembali turun ke jalan, mereka harus bekerja terlebih dahulu. So Doshin mengajarkan teknik Beladiri dengan melatih fisik dalam format Zen. Akhirnya makin banyak murid baru yang bergabung dengan pelatihan tersebut.. Di tahun 1950, Doshin So membentuk perkumpulan yang bersifat religius, tahun 1951, resmi menjadi organisasi “Kongo Zen Sohonzan Shorinji”. Dan membentuk sekolah untuk melatih Shorinji Kempo untuk membentuk pemimpin masa depan waktu itu, yang bernama sekolah Zenrin Gakuen (akademi hutan zen), sebagai awal dari Nihon Shorinji Budo Senmon Gakko (Akademi Shorinji Kempo Jepang), yang sering disebut juga Busen (Budo Senmon).

Sebagian dari diri kalian adalah untuk orang lain, adalah satu pengajaran didalam Busen. Masing-masing individu harus berusaha hidup layak. Semboyan Shorinji Kempo dan Kongo Zen yang dikenal sampai hari ini " Pikir separuh untuk kebahagiaan milik mu, setengah untuk kebahagiaan dari yang lain" ( Nakaba wa jiko Nakaba wa jiko shiawase wo, nakaba wa hito nakaba wa hito shiawase wo). Selama tahun 1950 an sering mengadakan demonstrasi publik untuk publik, seperti embu taikai, sehingga mempercepat pertumbuhan organisasi. Tahun 1960, Doshin So muncul di televisi nasional, sehingga semakin meningkatkan ketenaran Shorinji Kempo pada publik. Di 1963 membentuk " Shadan Hojin Nihon Shorinji Kempo Renmei" di kuil Tadotsu, untuk mempelajari Buddhism yang dipelajari selama di kuil Shaolin Kuil,yaitu mempelajari penyelesaian suatu sengketa dengan cara penengahan lewan pengajaran Budha dan mempelajari teknik Beladiri.
Posted Image
半ばは自己の幸せを、半ばは他人の幸せを 
​宗 道臣
"Nakaba wa jiko no shiawase wo, nakaba wa hito no shiawase wo"
(Pikir separuh untuk kebahagiaan milik mu, setengah untuk kebahagiaan dari yang lain)
So Doshin

__________________________________
Masuknya Kempo Ke Indonesia

Sejak akhir tahun 1959, pemerintah Jepang menerima mahasiwa dan pemuda Indonesia untuk belajar dan latihan sebagai salah satu bentuk pembayaran pampasan perang. Sejak itu secara bergelombang dari tahun ke tahun sampai tahun 1965, ratusan mahasiswa dan pemuda Indonesia mendapat kesempatan belajar di Jepang. Tidak sedikit di antara mereka itu memanfaatkan waktu senggang dan liburannya untuk belajar serta memperdalam seni beladiri seperti Karate, Judo, Ju Jit Su dan juga Kempo.

Sepulangnya di tanah air, mereka bukan saja menggondol ijazah sesuai dengan bidang studinya tetapi juga memperoleh tambahan berupa penguasaan seni bela diri seperti tersebut di atas.

Posted Image
Sensei Utin Syahraz


Pada tahun 1964, dalam suatu acara kesenian yang dipertunjukkan mahasiswa Indonesia untuk menyambut tamu-tamu dari tanah airnya, seorang pemuda yang bernama UTIN SAHRAS mendemonstrasikan kebolehannya bermain Kempo. Ia datang di Jepang pada tahun 1960 dan tinggal di Tokyo sebagai Trainee Pampasan.
Apa yang didemonstrasikannya itu menarik minat pemuda dan mahasiswa Indonesia lainnya, diantaranya Indra Kartasasmita dan Ginanjar Kartasasmita serta beberapa orang lainnya. Mereka lalu datang ke pusat Shorinji Kempo di kota Tadotsu untuk menimba langsung seni bela diri itu dari Sihangnya.

Untuk meneruskan warisan seni bela diri itu seperti apa yang mereka peroleh di Jepang, ketiga pemuda itu, yaitu Utin Sahras (almarhum), Indra Kartasasmita dan Ginanjar Kartasasmita, bertekad melahirkan dan membentuk suatu wadah yang bernama PERKEMI (Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia), dan resmi dibentuk pada tanggal 2 Februari 1966. Kini PERKEMI telah melahirkan ribuan kenshi yang tersebar diseluruh Indonesia.

Selain itu merupakan salah satu organisasi induk yang bernaung di bawah KONI Pusat, PERKEMI juga menjadi anggota penuh dari Federasi Kempo se-Dunia atau WOSKO (World Shorinji Kempo Organization), yang berpusat di kuil Shorinji Kempo di kota Tadotsu, Jepang.

Sejak tahun 1966 sampai tahun 1976, PB. PERKEMI mengadakan pemilihan pengurus setiap dua tahun sekali. Tapi sejak tahun 1976 sampai sekarang masa bakti pengurus berlangsung selama empat tahun.

Sejak didirikannya pada tanggal 2 Februari 1996, PB. PERKEMI telah banyak melakukan kegiatan yang sifatnya lokal, nasional dan internasional. Tahun 1970 telah diselenggarakan Kejauraan Nasional Kempo yang pertama di Jakarta, dan sampai sekarang masih terus berlanjut. Begitu juga dengan Kejuaraan antar Perguruan Tinggi, dimana diadakan pertama kalinya pada tahun 1971 yang sampai sekarang berjalan terus setiap dua tahun sekali.

Selain itu sejak PON IX / 1977 di Jakarta, Kempo termasuk salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan.

Posted Image
Indra Kartasasmita
Anggota Dewan WSKO
Pelatih Resmi WSKO
Anggota Dewan Kehormatan, dan Ketua Dewan Guru PERKEMI




Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia (PERKEMI) memiliki lebih dari 50.000 kenshi , yang membuatnya sebagai Federasi Beladiri Kempo terbesar kedua setelah Jepang. Sensei Indra Kartasasmita adalah Anggota Dewan Kehormatan, dan Ketua Dewan Guru PERKEMI Periode 2010-2014, serta Anggota Dewan WSKO. Yang lebih penting adalah, beliau adalah salah satu orang yang membawa dan menebarkan Benih Shorinji Kempo di Indonesia.
Posted Image


Sensei Indra: Indonesia tidak memiliki peraturan hukum yang memperhatikan olahraga. Saya hendak membuat system yang menjamin kehidupan bagi atlet setelah mereka pensiun dari olahraga atau karena cedera. Kami menginginkan peraturan hukum untuk mendukung atlet yang berprestasi. Itulah yang kami bicarakan dalam komite yang beranggotakan Anggota DPR, dimana saya menjabat Ketua.

-Bagaimana anda mengenal Shorinji Kempo?

Sensei Indra: Saya kuliah di Tenri University dan Doshisha University Graduate School. Saya belajar Judo, Karate,dan Iaido juga. Suatu hari, Ginanjar (Sensei Ginandjar Kartasasmita),salah satu teman saya yang juga belajar di Jepang, meminta untuk dibanting. Jadi saya pun mencobanya,tapi malah saya yang terbanting. Saya menanyakan budo (beladiri) apa itu, dan jawabnya RAHASIA. Sungguh menyebalkan! x-(
Posted Image
sensei Ginandjar Kartasasmita dan Sensei Hans Pohan




Setelah itu saya mengetahui bahwa teknik yang dipakai di saya adalah Shorinji Kempo, dan menemukannya di Kyoto Bersuin, dimana Kaisho dan para Sensei lainnya mengajar.

Kaisho mengajar disana tiap 5-7 hari perbulan. Beliau menggunakan tekniknya ke saya, dan ketika saya berkata “itai yo, itai yo (itu sakit)”, beliau pun berkata, “Lihat teknik inipun berfungsi kepada orang asing.” ;-< =))

Sekeras apapun latihannya, Sensei Indra datang ke dojo seawal mungkin dan baru pulang setelah yang lainnya pulang. Setelah latihan,dimana Kaisho menggunakan tekniknya kepada Sensei Indra, Kaisho pun berkata ”Tangan dan kakimu pasti sakit sekali”, dan kaisho pun mentraktir Sensei Indra semangkok mie udon. Kata-kata yang bersahabat dari Kaisho “Kamu Suka?” menyentuh hati Sensei Indra yang paling dalam.

-Apakah anda mengingat kata-kata yang paling jelas dikatakan Kaisho Kepada anda?

Sensei Indra: Kaisho secara berulang-ulang berkata kepada saya “Kuasai Shorinji Kempo dan sebarkan di Indonesia.” Itu bukan untuk diri saya pribadi, melainkan untuk Indonesia.

Pada 30 September 1965, terjadi percobaan Kudeta, oleh Partai Komunis Indonesia. Kudeta itu tidak berhasil, namun rakyat merasa tidak aman. Para pemuda merasa kecewa. Dalam keadaan semacam itulah Sensei Indra mulai mengajarkan Shorinji Kempo di Indonesia

Sensei Indra: Para pemuda pada masa itu cenderung membentuk geng preman. Pada saat saya melewati suatu taman, ada sekelompok geng preman datang dan mengepung saya. Saya membuat lingkaran dengan garis tengah sekitar 3meter di tanah, dan menantang mereka untuk masuk dan melawan saya satu lawan satu. Saya menunggu dalam Taiki Gamae. Ketika salah satu preman meraih tangan saya, saya menggunakan Gyaku Gote, lalu dilanjutkan Ura Gatame. Lalu saya berkata kepada preman yang lain, kalau dia bisa mati kalau diteruskan. =))

Dua dari para preman tersebut menjadi murid dari Sensei Indra. Sensei Indra membuat mereka berjanji untuk tidak berbuat jahat lagi dan mengijinkan mereka menjadi pengikutnya. Kenshi-kenshi baru tersebut sesekali menunjukkan tabiat preman mereka. Pada saat-saat tersebut, Sensei Indra mengingatkan mereka dengan kata-kata kasar, sampai dengan mereka tidak menunjukkan tabiat buruk mereka, dalam perkataan.

Sensei Indra: Indonesia adalah Negara dengan umat Islam sebagai mayoritas. Saya sering berkatakata-kata yang sangat menghina seperti “Kamu babi!”. Lalu saya pun memberikan wejangan yang panjang kepada mereka. Mereka memerlukan pelajaran yang tegas agar dapat menerima apa yang hendak saya yakinkan kepada mereka.

Keadaan ini mirip dengan Jepang saat mereka kalah dalam perang Pasifik

Sensei Indra tidak mengijinkan Kenshi untuk menunjukkan teknik Shorinji Kempo kepada orang lain sebelum Kenshi tersebut mencapai Kyu-III. Beliau menjaga teknik tersebut sebagi rahasia, sehingga orang yang belajar Shorinji Kempo bangga dengan apa yang telah mereka pelajari. Ketika kenshi mencapai Kyu-III kenshi tersebut diperbolehkan membawa teman mereka, namun dibatasi hanya satu atau dua orang saja.


Sensei Indra: Anda mungkin bertanya-tanya kenapa kami menjaganya sangat rapat dan rahasia. Salah satu alasannya adalah kami bisa saja dilarang untuk belajar Kempo, jika ada seseorang membawa orang komunis untuk menjadi anggota kami.

Sistem semacam ini terus berlangsung hingga angkatan Kenshi ke-enam.

Sambil mengajarkan filosofi Shorinji Kempo, beliau menambah anggota sedikit demi sedikit. Salah seorang anggota awalnya saat ini menjabat menjadi President dari sebuah Bank Jerman.

Sensei Indra: Di Indonesia ada semacam ungkapan, jika kamu berkata akan membangun rumah, maka bangunlah rumah itu. Ini adalah perwujudan dari akutalisasi diri. Saya berkata kepada Kenshi saya, jika mereka akan lulus ujian, maka mereka akan lulus. Tetapi saya tidak menerima sifat arogan.

Ketika seorang Kenshi lulus ujian, dia akan dilempar ke lumpur, bukan malah diberi ucapan selamat. Sebab, jika saya ucapkan selamat kepadanya, dia akan berhenti berlatih.

Tradisi semacam ini berlangsung hingga kini.

Tradisi ini terjadi pada hari terakhir Gashuku. Setelah menerima kenaikan tingkat, semua Kenshi Laki-laki yang lulus, disuruh membuka dogi atas mereka, diperintahkan untuk tidur terlentang, dan dicambuki dengan obi oleh sempaimereka. Mereka diperintahkan untuk sit up, sementara Kenshi senior menginjak tubuh mereka. Terdengar teriakan dimana-mana.

Tetapi,jika kita perhatikan, walaupun mereka berteriak, para kenshi yang lulus ujian tersebut tersenyum, dan semua pihak menikmati upacara yang gila-gilaan tersebut. Setelah itu, mereka dibawa ke sungai di luar dojo, dan tubuh merekapun dipenuhi lumpur, sementara senyuman bahagia terpancar dari wajah mereka.


Posted Image

Sensei Indra: Alasan kenapa Shorinji Kempo dapat menjadi organisasi besar di Indonesia adalah dikarenakan Pelatih-pelatihnya adalah orang Indonesia, yang memahami orang Indonesia, dan mengajarkan Shorinji Kempo dengan cara yang dapat dilakukan oleh orang Indonesia. Kami mengajarkan Shorinji Kempo di Indonesia dengan disiplin yang keras. =))


Posted Image
Dewan Guru Besar Perkemi





(4 Februari 2006, pada saat HUT ke-40 Perkemi, dilaporkan oleh Toru Hatsuki, Chief Editor dari Kaiho Shorinji Kempo)
penerjemah:
oriesama :-D