Pengertian tentang Kempo
Di Indonesia, Kempo adalah Shorinji Kempo....
Secara umum, kenpo adalah term generik untuk "beladiri", instead "budo"
Shorinji Kempo, literally shaolin temple's fist way... Tetapi... Shorinji Kempo tidak sama dengan Shaolin-quan....
Jadi kalo mau lengkap, kita harus menyebut "Nihon Shorinji Kempo"...
Balik lagi, PERKEMI adalah Persaudaraan Beladiri Kempo Indonesia (tanpa embel-embel Shorinji)
Tetapi
perlu dipahami juga, kalau Perkemi menginduk kepada WSKO (World
Shorinji Kempo Organization) jadi "Kempo" kita adalah Shorinji Kempo.
Dalam so en kita pun, sudah jelas tertulis "Shorinji Kempo
®"
Maka
saya jelaskan mengenai penggunaan term "Kempo", apakah skup nasional
atau internasional, pemahaman secara khusus atau pemahaman secara lokal
umum.
---------
Notes: di Jepang pun ada yang namanya
Nihon Kenpo, yang sama sekali berbeda dengan Shorinji Kempo yang diciptakan oleh Kaisho So Doshin....
Nakanao Michiomi – Kaiso
Dilahirkan di suatu desa yang terletak di suatu lereng gunung kecil di
daerah administrasi Okuyama tahun, 1911. Anak sulung dari tiga
bersaudara, ayahnya adalah seorang pegawai biasa. Michiomi kecil
ditinggal ayahnya ketika berumur delapan tahun. Sehingga ia harus
mengasuh dua adik perempuannya ketika ditinggal ibunya untuk bekerja
menggantikan ayahnya. Akhirnya dua saudaranya di asuh oleh keluarga dari
ibu, sedangkan Michiomi pergi ke Manchuria untuk tinggal bersama kakek
dari ayahnya.
Kakek Michio adalah anggota
Kokyuryukai (Perkumpulan
rahasia Ular Naga Hitam). Dan ia juga seorang yang ahli dalam seni
beladiri (budo). Selama 7 tahun kakeknya mengajarkan permainan pedang
dan seni permainan tombak, serta perkelahian tanpa senjata, Jujutsu.
Bulan mei tahun 1926 Ibu Nakano Michiomi meninggal dunia, dan iapun
kembali ke Jepang. Dan pada tahun yang sama salah satu saudarinya juga
menyusul ibunya, setahun kemudian, 1927, saudara satunya lagi juga
meninggal dunia. Bukan suatu kebetulan juga ketika akan kembali ke Cina
kakeknya juga meninggal ditahun yang sama. Kini Michiomi tinggal
sebatang kara, dan iapun pergi ke Tokyo, yang pada waktu itu terjadi
depresi ekonomi setelah PD I. Perekonomian tidak teratur dan angka
pengangguran tinggi.
Agen Intelegent
Di usai ke 17 tahun, Januari 1928, Michiomi mendaftarkan diri masuk
angkatan perang. Dan ditempatkan di Manchuria sebagai Special
Expeditionary Force, agen pasukan khusus. Ditugaskan pada sekolah Taoist
yang dikepalai oleh Chen Liang. Seorang anggota rahasia Perkumpulan
Zaijia Li,
dan kepala perkumpulan Bunga Teratai Putih (Byakuren dalam bahasa
Jepang), sekolah tinju Shaolin Utara ( Shorin). Sebagai murid Chen,
Michiomi mempelajari kempo (Quan Fa – Tinju), dan juga pertama kali
Michiomi berkenalan dengan pengajaran Budha. Pengaruh Budha (Chan-Zen)
sangat kental dengan beladiri cina.
Tahun 1931 Nakano Michiomi terkena tipus dan dikembalikan ke Jepang.
Bergabung dengan Kesatuan Angkatan Udara I. Ketika latihan terbang
malam, ia terkena seranga jantung, dan harus mendapatkan perawatan
hingga 6 bulan. Para dokter memperkirakan waktu hidupnya 1 sampai 3
tahun.
Bulan Oktober 1931, Michiomi kembali ke Manchuria dan Chen, ditugaskan
sebagai agen intelijen. Karena ia berpikir tidak punya umur panjang,
Michiomi memilih untuk melakukan berbagai macam misi. Chen bertanya
padanya, mengapa ia menginginkan kematian lebih cepat. Michiomi
menceritakan apa
yang telah dikatakan dokter kepadanya waktu itu. Chen berkata kepada
dia, siapa yang memutuskan hidupmu hanya Cuma setahun? Nasib adalah
sesuatu yang Gaib, di luar ken adalah kematian. Kamu tidak akan mati
dengan seketika, kamu harus berjuang untuk hidup dengan segala usaha.
Aku akan merawatmu mulai hari ini. Michionmi menjalani perawatan dengan
pijatan dan teknik akupressur, dalam bahasa jepang disebut Kemyaku iho.
Dan dalam istilah ShorinjiKempo sekarang disebut dengan Seiho (seitai
jutsu).
Dalam melaksanakan misinya, Michiomi menyamar sebagai gelandangan,
menemani Chen. Pada tahun 1932, mereka berada di Beijing, di mana
gurunya Chen, Wen Taizong tinggal di sana. Wen waktu itu adalah guru
besar dari sekolah Shaolin Utara
“Yihemen Quan” , atau Giwamon Ken dalam bahasa Jepang.
Pada waktu masih muda, Wen adalah seorang biarawan kuil Shaolin, dan
akhirnya menjadi guru besar menggantikan Huang Longbai. Lalu Wen
memperkenalkan Michiomi pada Huang, dan akhirnya mengijinkan menjadi
muridnya secara langsung. Huang mengajarkan Michiomi 36 macam kuncian
dan teknik gulat naga, yang disebut Longxi Zhuji. Ia juga mempelajari
teknik lemparan Wu Hua Quan (Goka Ken, Tinju Lima Bunga), yang akhirnya
menjadi dasar prinsip lembut dan keras menjadi satu (Goju Ittai).
Setelah mempelajari beladiri dari kakeknya, kemudian menguasai apa yang
telah diajarkan Chen, Michiomi menerima semua pelajaran dengan cepat.
Wen berpikir telah menemukan seorang yang cukup cakap. Di musim gugur
1936, Wen dan Michiomi menghidiri upacara di kuil Shaolin, Michiomi di
angkat menjadi Guru Besar ke 21 dari Yihemen Quan. Wen menamai di
“Doshin So/Zhong Daochang (dalam bahasa Mandarin)”, yang berarti Yang
Membantu Jalan Menuju Religius. Dan nama tersebut dipakai sepanjang sisa
hidupnya.
Sejak kali pertama bergabung di kuil Shaolin, Doshin amat terkesan
dengan lukisan di dinding yang melukiskan Orang India dan Biarawan Cina
berlatih dengan menyenangkan dan dilakukan bersama-sama. Metode ini
berlawanan denga pelatihan yang selama ini dia lakukan, dan ia
mengembangkan gagasan, dimana untuk berlatih harus ada kerja sama dengan
pasangannya, untuk kepentingan berdua. Dalam bahasa jepang, konsep ini
dinyatakan sebagai “
otegai renshu” (berlatih untuk satu sama lain), atau “
jita kyuraku” (menikmati dengan orang lain).
Soviet menyerbu Manchuria
Agustus 1945, Soviet menyerbu Manchuria. Angkatan perang Jepang
melarikan diri, dan meninggalkan anak-anak dan para wanita di Manchuria.
Doshin So merasakan perilaku yang kurang berkenan untuk ikut
meninggalkan Manchuria. Akhirnya ia mengalami dua masa pendudukan di
Manchuria, yaitu masa Jepang dan masa Soviet. Ia melihat perilaku dari
pemenang perang waktu itu, bagaimana cara supaya bisa mempertahankan
kedudukannya, tak lain dengan menekan kaum yang lemah. Dan ia pun
melihat bagaimana keberanian seseorang untuk melindungi yang lemah
dengan bahkan mengorbankan diri mereka. Doshin So mengembangkan
pemahamannya, bahwa kualitas seseorang bukan dari kebangsaan mereka
tetapi berasal dari individu sendiri.
Ia berkata, " Di masa damai, orang-orang dapat menyembunyikan karakter
mereka asli mereka, mereka dapat menghias karakter masing masing, tetapi
ketika kekacauan datang, akan terlihat karakter aslinya, tidak lagi
terpengaruh oleh hukum yan ada. Aku mempelajari hal ini dari pengalaman
dan penderitaan.
Jika kita ingin mencapai kedamaian, tidak ada jalan/cara lain kecuali
menegakkan kesadaran hukum yang kuat kuat untuk semua, tidak memihak
siapapun. Aku merasakan hal ini ketika berada di Manchuria. Sehingga
jika aku dapat kembali ke Jepang, aku akan membuka sekolah swasta untuk
membangun ikatan dan jiwa keberanian, serta kepercayaan di hati orang
orang muda”.
Kaiso Ke Jepang
Setelah peperangan selesai, orang-orang yang berada di Cina pulang ke
Jepang. So Doshin tetap tinggal di Shenyang bersama teman-temannya di
masyarakat Cina. Hubungan dengan orang-orang tersebut memungkinkan dia
kembali ke Jepang lebih cepat. Temen-teman di Cina mencoba untuk
membujuk agar tetap tinggal di dalam Negeri China, dengan alasan Jepang
telah dihancurkan Sekutu. Kepada teman temannya Doshin So mengatakan
bahwa mungkin Jepang telah hilang, tetapi ia belum pernah hilang, dan
masih sebagai orang Jepang. Ia ingin kembali ke Jepang untuk membantu,
membangun kembali Jepang. So Doshin mendarat pada Sasebo, daerah di
Nagasaki pada tahun 1946. Sepanjang perjalanan pulang tidak jarang ia
menggunakan teknik kempo untuk menghindari gangguan dari penumpang yang
lain.
Akhirnya Doshin ke kota kelahiran ibunya. Dan menginap di kemenakannya
di Osaka. Ia memulai hidup baru dengan menjalankan bisnis produk bahan
kimia bersama temannya dari Cina. Dari sini Doshin dapat bertahan hidup
dan pendapatkan kenyamanan. Pada waktu yang sama, Doshin melihat
penderitaan yang diakibatkan oleh perang, inflasi, kemiskinan,
pengangguran, memicu orang melanggar hukum dan orang tidak mau
mendengarkan suara hati untuk orang lain. Ia ditawari beberapa lahan di
Tadotsu, suatu daerah pedesaan dan pelabuhan di pulau Shikoku, Daerah
administrasi Kagawa. Dan akhirnya Tadotsu telah menjadi Mecca untuk
Shorinji Kempo.
Mendirikan Shorinji Kempo
Doshin So memulai dengan membangun aula kecil, dan memberi pengajaran
dan filosofi pada Oktober 1947. Pada awalnya ia tidak begitu diterima,
karena dianggap orang asing di daerah tersebut, dan juga pengajaran yang
tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah ada. Yang datang untuk
mendengarkan hanya sedikit, tapi yang kembali lagi lebih sedikit lagi.
Ketika So Doshin sedang mempertimbangkan bagaimana cara yang tepat untuk
mengajarkan filosofinya, dalam suatu mimpinya ia bertemu dengan
Bodhidharma, berjenggot dan berpakaian seperti biarawan budha, berjalan
dengan cepat dihadapan So Doshin, ia berusaha berbicara pada Bodhidharma
tetapi tidak dapat mendengarnya, Bodhidharma hanya menunjukkan satu
arah dari tangannya, So Doshin berusaha memahami mimpinya. Akhirnya ia
memutuskan untuk memberikan pengajaran Zen Budhisme, seperti ketika ia
belajar di Kuil Shaolin. Yang kemudian ia gabungkan dengan filosofi yang
pernah ia terima.Bukan pengajaran yang berhubungan dengan peperangan
untuk memenangkan lawan, tetapi lebih kepada pelatihan jasmani dan
peningkatan rohani untuk kemajuan bersama. Doshin akhirnya mengorganisir
kembali sistem teknik yang telah ia pelajari sebelumnya dan
menyelaraskan dengan pemahamannya akan Zen Budhisme.

Kota Tadotsu sedang dalam kekacauan, banyak penjahat dan pasar gelap
setelah perang berakhir. So Doshin mengajarkan teknik kempo kepada
muridnya dengan cepat. Dan bersama muridnya turun ke jalan untuk
menantang penjahat yang ada di jalanan, karena ia berpikir, dengan
pengguanaan teknik yang dikuasai untuk kebaikan hal itu adalah benar.

Bersama dengan polisi setempat Doshin So berhasil mengamankan kota.
Untuk memastikan muridnya tidak kembali turun ke jalan, mereka harus
bekerja terlebih dahulu. So Doshin mengajarkan teknik Beladiri dengan
melatih fisik dalam format Zen. Akhirnya makin banyak murid baru yang
bergabung dengan pelatihan tersebut.. Di tahun 1950, Doshin So membentuk
perkumpulan yang bersifat religius, tahun 1951, resmi menjadi
organisasi “Kongo Zen Sohonzan Shorinji”. Dan membentuk sekolah untuk
melatih Shorinji Kempo untuk membentuk pemimpin masa depan waktu itu,
yang bernama sekolah Zenrin Gakuen (akademi hutan zen), sebagai awal
dari Nihon Shorinji Budo Senmon Gakko (Akademi Shorinji Kempo Jepang),
yang sering disebut juga Busen (Budo Senmon).
Sebagian dari diri kalian adalah untuk orang lain, adalah satu
pengajaran didalam Busen. Masing-masing individu harus berusaha hidup
layak. Semboyan Shorinji Kempo dan Kongo Zen yang dikenal sampai hari
ini " Pikir separuh untuk kebahagiaan milik mu, setengah untuk
kebahagiaan dari yang lain" ( Nakaba wa jiko Nakaba wa jiko shiawase wo,
nakaba wa hito nakaba wa hito shiawase wo). Selama tahun 1950 an sering
mengadakan demonstrasi publik untuk publik, seperti embu taikai,
sehingga mempercepat pertumbuhan organisasi. Tahun 1960, Doshin So
muncul di televisi nasional, sehingga semakin meningkatkan ketenaran
Shorinji Kempo pada publik. Di 1963 membentuk " Shadan Hojin Nihon
Shorinji Kempo Renmei" di kuil Tadotsu, untuk mempelajari Buddhism yang
dipelajari selama di kuil Shaolin Kuil,yaitu mempelajari penyelesaian
suatu sengketa dengan cara penengahan lewan pengajaran Budha dan
mempelajari teknik Beladiri.
半ばは自己の幸せを、半ばは他人の幸せを
宗 道臣
"Nakaba wa jiko no shiawase wo, nakaba wa hito no shiawase wo"
(Pikir separuh untuk kebahagiaan milik mu, setengah untuk kebahagiaan dari yang lain)
So Doshin
__________________________________
Masuknya Kempo Ke Indonesia
Sejak akhir tahun 1959, pemerintah Jepang menerima mahasiwa dan pemuda
Indonesia untuk belajar dan latihan sebagai salah satu bentuk pembayaran
pampasan perang. Sejak itu secara bergelombang dari tahun ke tahun
sampai tahun 1965, ratusan mahasiswa dan pemuda Indonesia mendapat
kesempatan belajar di Jepang. Tidak sedikit di antara mereka itu
memanfaatkan waktu senggang dan liburannya untuk belajar serta
memperdalam seni beladiri seperti Karate, Judo, Ju Jit Su dan juga
Kempo.
Sepulangnya di tanah air, mereka bukan saja menggondol ijazah sesuai
dengan bidang studinya tetapi juga memperoleh tambahan berupa penguasaan
seni bela diri seperti tersebut di atas.

Sensei Utin Syahraz
Pada tahun 1964, dalam suatu acara kesenian yang dipertunjukkan
mahasiswa Indonesia untuk menyambut tamu-tamu dari tanah airnya, seorang
pemuda yang bernama UTIN SAHRAS mendemonstrasikan kebolehannya bermain
Kempo. Ia datang di Jepang pada tahun 1960 dan tinggal di Tokyo sebagai
Trainee Pampasan.
Apa yang didemonstrasikannya itu menarik minat pemuda dan mahasiswa
Indonesia lainnya, diantaranya Indra Kartasasmita dan Ginanjar
Kartasasmita serta beberapa orang lainnya. Mereka lalu datang ke pusat
Shorinji Kempo di kota Tadotsu untuk menimba langsung seni bela diri itu
dari Sihangnya.
Untuk meneruskan warisan seni bela diri itu seperti apa yang mereka
peroleh di Jepang, ketiga pemuda itu, yaitu Utin Sahras (almarhum),
Indra Kartasasmita dan Ginanjar Kartasasmita, bertekad melahirkan dan
membentuk suatu wadah yang bernama PERKEMI (Persaudaraan Bela Diri Kempo
Indonesia), dan resmi dibentuk pada tanggal 2 Februari 1966. Kini
PERKEMI telah melahirkan ribuan kenshi yang tersebar diseluruh
Indonesia.
Selain itu merupakan salah satu organisasi induk yang bernaung di bawah
KONI Pusat, PERKEMI juga menjadi anggota penuh dari Federasi Kempo
se-Dunia atau WOSKO (World Shorinji Kempo Organization), yang berpusat
di kuil Shorinji Kempo di kota Tadotsu, Jepang.
Sejak tahun 1966 sampai tahun 1976, PB. PERKEMI mengadakan pemilihan
pengurus setiap dua tahun sekali. Tapi sejak tahun 1976 sampai sekarang
masa bakti pengurus berlangsung selama empat tahun.
Sejak didirikannya pada tanggal 2 Februari 1996, PB. PERKEMI telah
banyak melakukan kegiatan yang sifatnya lokal, nasional dan
internasional. Tahun 1970 telah diselenggarakan Kejauraan Nasional Kempo
yang pertama di Jakarta, dan sampai sekarang masih terus berlanjut.
Begitu juga dengan Kejuaraan antar Perguruan Tinggi, dimana diadakan
pertama kalinya pada tahun 1971 yang sampai sekarang berjalan terus
setiap dua tahun sekali.
Selain itu sejak PON IX / 1977 di Jakarta, Kempo termasuk salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan.
Indra Kartasasmita
Anggota Dewan WSKO
Pelatih Resmi WSKO
Anggota Dewan Kehormatan, dan Ketua Dewan Guru PERKEMI
Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia (PERKEMI)
memiliki lebih dari 50.000 kenshi , yang membuatnya sebagai Federasi
Beladiri Kempo terbesar kedua setelah Jepang. Sensei Indra Kartasasmita
adalah Anggota Dewan Kehormatan, dan Ketua Dewan Guru PERKEMI Periode
2010-2014, serta Anggota Dewan WSKO. Yang lebih penting adalah, beliau
adalah salah satu orang yang membawa dan menebarkan Benih Shorinji Kempo
di Indonesia.
Sensei Indra: Indonesia tidak memiliki
peraturan hukum yang memperhatikan olahraga. Saya hendak membuat system
yang menjamin kehidupan bagi atlet setelah mereka pensiun dari olahraga
atau karena cedera. Kami menginginkan peraturan hukum untuk mendukung
atlet yang berprestasi. Itulah yang kami bicarakan dalam komite yang
beranggotakan Anggota DPR, dimana saya menjabat Ketua.
-Bagaimana anda mengenal Shorinji Kempo?
Sensei Indra: Saya kuliah di Tenri
University dan Doshisha University Graduate School. Saya belajar Judo,
Karate,dan Iaido juga. Suatu hari, Ginanjar (Sensei Ginandjar
Kartasasmita),salah satu teman saya yang juga belajar di Jepang, meminta
untuk dibanting. Jadi saya pun mencobanya,tapi malah saya yang
terbanting. Saya menanyakan budo (beladiri) apa itu, dan jawabnya
RAHASIA. Sungguh menyebalkan!

sensei Ginandjar Kartasasmita dan Sensei Hans Pohan
Setelah itu saya mengetahui bahwa teknik yang dipakai di saya adalah
Shorinji Kempo, dan menemukannya di Kyoto Bersuin, dimana Kaisho dan
para Sensei lainnya mengajar.
Kaisho mengajar disana tiap 5-7 hari perbulan. Beliau menggunakan
tekniknya ke saya, dan ketika saya berkata “itai yo, itai yo (itu
sakit)”, beliau pun berkata, “Lihat teknik inipun berfungsi kepada orang
asing.” ;-<
Sekeras apapun latihannya, Sensei Indra datang ke dojo
seawal mungkin dan baru pulang setelah yang lainnya pulang. Setelah
latihan,dimana Kaisho menggunakan tekniknya kepada Sensei Indra, Kaisho
pun berkata ”Tangan dan kakimu pasti sakit sekali”, dan kaisho pun
mentraktir Sensei Indra semangkok mie udon. Kata-kata yang bersahabat
dari Kaisho “Kamu Suka?” menyentuh hati Sensei Indra yang paling dalam.
-Apakah anda mengingat kata-kata yang paling jelas dikatakan Kaisho Kepada anda?
Sensei Indra: Kaisho secara berulang-ulang
berkata kepada saya “Kuasai Shorinji Kempo dan sebarkan di Indonesia.”
Itu bukan untuk diri saya pribadi, melainkan untuk Indonesia.
Pada 30 September 1965, terjadi percobaan Kudeta, oleh
Partai Komunis Indonesia. Kudeta itu tidak berhasil, namun rakyat merasa
tidak aman. Para pemuda merasa kecewa. Dalam keadaan semacam itulah
Sensei Indra mulai mengajarkan Shorinji Kempo di Indonesia
Sensei Indra: Para pemuda pada masa itu
cenderung membentuk geng preman. Pada saat saya melewati suatu taman,
ada sekelompok geng preman datang dan mengepung saya. Saya membuat
lingkaran dengan garis tengah sekitar 3meter di tanah, dan menantang
mereka untuk masuk dan melawan saya satu lawan satu. Saya menunggu dalam
Taiki Gamae. Ketika salah satu preman meraih tangan saya, saya
menggunakan Gyaku Gote, lalu dilanjutkan Ura Gatame. Lalu saya berkata
kepada preman yang lain, kalau dia bisa mati kalau diteruskan.
Dua dari para preman tersebut menjadi murid dari Sensei
Indra. Sensei Indra membuat mereka berjanji untuk tidak berbuat jahat
lagi dan mengijinkan mereka menjadi pengikutnya. Kenshi-kenshi baru
tersebut sesekali menunjukkan tabiat preman mereka. Pada saat-saat
tersebut, Sensei Indra mengingatkan mereka dengan kata-kata kasar,
sampai dengan mereka tidak menunjukkan tabiat buruk mereka, dalam
perkataan.
Sensei Indra: Indonesia adalah Negara
dengan umat Islam sebagai mayoritas. Saya sering berkatakata-kata yang
sangat menghina seperti “Kamu babi!”. Lalu saya pun memberikan wejangan
yang panjang kepada mereka. Mereka memerlukan pelajaran yang tegas agar
dapat menerima apa yang hendak saya yakinkan kepada mereka.
Keadaan ini mirip dengan Jepang saat mereka kalah dalam perang Pasifik
Sensei Indra tidak mengijinkan Kenshi untuk menunjukkan teknik Shorinji
Kempo kepada orang lain sebelum Kenshi tersebut mencapai Kyu-III. Beliau
menjaga teknik tersebut sebagi rahasia, sehingga orang yang belajar
Shorinji Kempo bangga dengan apa yang telah mereka pelajari. Ketika
kenshi mencapai Kyu-III kenshi tersebut diperbolehkan membawa teman
mereka, namun dibatasi hanya satu atau dua orang saja.
Sensei Indra: Anda mungkin bertanya-tanya
kenapa kami menjaganya sangat rapat dan rahasia. Salah satu alasannya
adalah kami bisa saja dilarang untuk belajar Kempo, jika ada seseorang
membawa orang komunis untuk menjadi anggota kami.
Sistem semacam ini terus berlangsung hingga angkatan Kenshi ke-enam.
Sambil mengajarkan filosofi Shorinji Kempo, beliau menambah anggota
sedikit demi sedikit. Salah seorang anggota awalnya saat ini menjabat
menjadi President dari sebuah Bank Jerman.
Sensei Indra: Di Indonesia ada semacam
ungkapan, jika kamu berkata akan membangun rumah, maka bangunlah rumah
itu. Ini adalah perwujudan dari akutalisasi diri. Saya berkata kepada
Kenshi saya, jika mereka akan lulus ujian, maka mereka akan lulus.
Tetapi saya tidak menerima sifat arogan.
Ketika seorang Kenshi lulus ujian, dia akan dilempar ke lumpur, bukan
malah diberi ucapan selamat. Sebab, jika saya ucapkan selamat kepadanya,
dia akan berhenti berlatih.
Tradisi semacam ini berlangsung hingga kini.
Tradisi ini terjadi pada hari terakhir Gashuku. Setelah menerima
kenaikan tingkat, semua Kenshi Laki-laki yang lulus, disuruh membuka
dogi atas mereka, diperintahkan untuk tidur terlentang, dan dicambuki
dengan obi oleh sempaimereka. Mereka diperintahkan untuk sit up,
sementara Kenshi senior menginjak tubuh mereka. Terdengar teriakan
dimana-mana.
Tetapi,jika kita perhatikan, walaupun mereka berteriak, para kenshi yang
lulus ujian tersebut tersenyum, dan semua pihak menikmati upacara yang
gila-gilaan tersebut. Setelah itu, mereka dibawa ke sungai di luar dojo,
dan tubuh merekapun dipenuhi lumpur, sementara senyuman bahagia
terpancar dari wajah mereka.
Sensei Indra: Alasan kenapa Shorinji Kempo
dapat menjadi organisasi besar di Indonesia adalah dikarenakan
Pelatih-pelatihnya adalah orang Indonesia, yang memahami orang
Indonesia, dan mengajarkan Shorinji Kempo dengan cara yang dapat
dilakukan oleh orang Indonesia. Kami mengajarkan Shorinji Kempo di
Indonesia dengan disiplin yang keras.

Dewan Guru Besar Perkemi
(4 Februari 2006, pada saat HUT ke-40 Perkemi, dilaporkan oleh Toru Hatsuki, Chief Editor dari Kaiho Shorinji Kempo)
penerjemah:
oriesama
